WANITA CEREWET

Selasa,16 Februari 2021

BACAAN NDC BIBLE STUDY

Amos 4

AYAT HAFALAN

Ayub 11:2

RENUNGAN INSPIRASI

Dikutip dari laman Daily Mail, sebuah riset menyebut bahwa wanita lebih banyak berbicara dibanding pria, yakni sekitar 20.000 kata sehari, sedangkan pria rata-rata 13.000 kata per hari. Para ilmuwan mengatakan jumlah protein Foxp2 yang lebih tinggi adalah alasan wanita lebih cerewet. Kita tidak bisa menampik bahwa terkadang kenyataan ini menjadi penyebab keharmonisan di dalam keluarga acap kali rusak. Pasalnya, istri yang cerewet dipandang oleh suami dan anak-anak sebagai biang persoalan.

Kitab Amsal mengatakan, “Adapun perempuan yang bebal itu mulutnya besar maka bodohlah ia dan satupun tiada diketahuinya.” (Amsal 9:13 DRFT_SB). Saat ada masalah, wanita cenderung tidak bisa menahan mulut, mengomel, bahkan bisa menyerang suami dengan perkataan. Seperti istri Ayub yang ditimpa masalah dan berbicara seperti perempuan gila (Ayub 2:10). Bukankah hal ini pula yang kerap dilakukan para wanita? Wanita yang cerewet pada akhirnya menimbulkan masalah dan pertengkaran. Alangkah bijaknya bila para wanita memperhatikan perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mengeluarkan kata-kata yang terlalu banyak hanya meresahkan pasangan mereka. Kata-kata keluhan, komplainan, ocehan dan ejekan merupakan penghinaan terhadap hubungan pernikahan dan keluarga. Jika para wanita terus menerus tidak menghargai suami mereka dengan omelan-omelan, akan datang saatnya di mana mereka tidak lagi melihat hubungan pernikahan yang bernilai. Ingat, perlakuan seorang suami hanya dapat dimenangkan oleh perbuatan bukan dengan perkataan (1 Petrus 3:1). Ini tak berarti bahwa perkataan seorang istri tidak berguna. Tetapi seperti pesan di dalam Amsal, perkatakanlah sesuatu tepat pada waktunya. Mulai hari ini marilah kita lebih bijak dalam berucap, kurangi omelan-omelan yang tak berarti, hindari kata-kata celaan, mengata-ngatai pasangan dan anak-anak. Seperti pesan Paulus, “Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.” (2Timotius 2:16). Sebaliknya, gantilah dengan kata-kata positif yang membangun dan memberi semangat. Demikianlah kita menghargai nilai pernikahan. [RS]

Bagaimana respon pasangan dan anak-anak ketika Anda mengganti kata-kata yang tidak berguna dengan kata-kata yang membangun?
©2017 NDC Ministry. All Rights Reserved.
Powered by GerejaSoft.com