Kita pernah mendengar ungkapan "leap of faith" (lompatan iman) yang menggambarkan suatu tindakan berani, dan kesediaan untuk menerima hal-hal yang tidak diketahui. Namun apa sebenarnya makna dari melakukan lompatan iman dalam perjalanan kekristenan kita? Tindakan iman ini dilakukan dalam praktik sehari-hari, dengan penyerahan kendali secara terus-menerus dan kepercayaan mendalam kepada Tuhan yang tak tergoyahkan. Lompatan iman tidaklah buta atau dilakukan sembarangan; tindakan ini berakar pada keyakinan. Bagaimana kita melangkah dalam ketaatan pada pimpinan Tuhan, bahkan ketika jalan di depan masih belum jelas. Ini tentang mempercayai bahwa janji-janji Tuhan adalah benar, bahkan ketika keadaan kita tampak bertentangan dengan janji-janji tersebut. Bayangkan Abraham, yang meninggalkan rumah dan keluarganya untuk melakukan perjalanan ke negeri asing, percaya pada janji Tuhan untuk menjadikannya bangsa yang besar. Tindakannya bukan didasarkan pada apa yang ia lihat, tetapi pada apa yang ia yakini.
Iman sering kali mengharuskan kita keluar dari zona nyaman. Hal ini menantang kecenderungan alami kita untuk berpegang pada keamanan dan prediktabilitas. Lompatan iman meminta kita untuk melepaskan pemahaman kita sendiri dan percaya pada kekuatan yang lebih tinggi. Kita mungkin menghadapi ketakutan, keraguan, dan ketidakpastian. Kita mungkin mempertanyakan apakah kita mengambil keputusan yang tepat. Namun pada saat-saat rentan inilah iman kita benar-benar bertumbuh. Lompatan iman tidak selalu terlihat hebat atau besar di depan umum. Hal ini dapat ditemukan dalam saat-saat tenang, dalam ketaatan, dalam tindakan kecil, dalam penyerahan diri. Misalnya saat kita melakukan pekerjaan kita dengan maksimal, saat kita memilih mengampuni daripada kepahitan, atau saat kita memberi bagi seseorang. Tindakan iman yang tampaknya kecil ini mempunyai dampak yang besar, baik terhadap kehidupan kita sendiri maupun bagi kehidupan orang lain. Seperti Musa yang menolak disebut anak puteri Firaun, kemudian meninggalkan Mesir dan berjalan terus seakan-akan ia melihat Allah menyertainya. Walaupun tantangan tetap ada, namun kita akan semakin melihat kuasa dan kesetiaan Tuhan. Sebab di saat-saat yang menantang itulah kita sering kali merasakan anugerah dan penyediaan Tuhan dengan cara yang paling dalam. Jadi, lompatan iman apa yang harus kita lakukan hari ini? Apakah langkah ketaatan, penyerahan kendali, atau kepercayaan pada janji-janji-Nya. Apapun itu, ingatlah bahwa kita tidak sendiri. Tuhan menyertai kita, memberdayakan kita, membimbing langkah kita, dan kita akan lihat kemana iman akan membawa kita. [EH]