Istilah "quiet quitting" menggambarkan sikap seseorang yang secara diam-diam berhenti terlibat sepenuh hati dalam pekerjaannya. Mereka bukan berhenti secara resmi, tapi hanya melakukan hal-hal yang paling minimum dalam pekerjaan mereka. Tidak ada usaha ekstra, tidak ada ambisi untuk bertumbuh. Mereka tetap datang, tetap bekerja, tapi tanpa semangat, tanpa inisiatif, dan tanpa hati.
Salah satu orang yang melakukan "quiet quitting" adalah Raja Amazia dari Yehuda. Alkitab mencatat bahwa ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tapi tidak dengan segenap hati. Amazia dinilai demikian, karena pada satu waktu ia bisa mengikuti ketentuan Tuhan, memimpin dengan cara seperti yang Tuhan inginkan, namun di waktu-waktu lainnya, ia bisa berkompromi dengan tidak menghancurkan bukit-bukit pengorbanan (2 Raj 14:3-4). Tidak menghancurkan disini sama dengan bentuk "quiet quitting", ia tidak melaksanakan kepemimpinannya yang saleh dengan segenap hati. Sebab ide dasar dari kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai "segenap hati" disini sama dengan "lengkap", "sempurna", dan "utuh". Jadi, apa yang terjadi dalam kasus Amazia menunjukkan bahwa hatinya tidak diarahkan sepenuhnya untuk melakukan kehendak Tuhan, dan ini merupakan gejala awal dari hati yang mulai menjauhi nilai-nilai ilahi. Inilah bahayanya "quiet quitting" dalam hal apapun yang kita kerjakan. Jika tidak segera diperbaiki, pelan-pelan kita akan kehilangan arah tujuan, panggilan dalam bekerja, bahkan integritas. Dalam surat Paulus kepada jemaat di Kolose, ia menekankan bahwa pekerjaan bukan hanya soal dilihat atasan atau memenuhi sebuah sistem. Kita bekerja "seperti untuk Tuhan". Artinya, kualitas kerja kita adalah bentuk ibadah kita kepada Allah. Ia tidak hanya menilai dari hasil, tapi dari hati kita saat kita mengerjakan sesuatu. Bahkan pekerjaan yang tampak biasaâmendata, mengetik, membersihkan ruangan, notulenâbisa menjadi bentuk pelayanan yang luar biasa jika dilakukan dengan sepenuh hati. Karena itu, bekerjalah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, yaitu sambil mengarahkan hati kita sepenuhnya untuk melakukan kehendak Tuhan. Dengan begitu kita akan bekerja dengan kesetiaan, kejujuran, dan upaya untuk memberi yang terbaik. [LS]