Tak sedikit orang merasa lelah karena hubungan yang rumit, terbebani dengan kecemasan masa depan, tuntutan ekonomi, kewalahan dengan tanggung jawab dan ekspektasi. Ayat firman hari ini adalah pengingat yang kuat bagaimana Tuhan tidak meninggalkan orang-orang yang lelah. Justru kepada merekalah Tuhan sedang mencurahkan kekuatan yang baru. Tetapi perhatikan bahwa kekuatan ini diberikan bukan kepada mereka yang berusaha mati-matian atau berlari tanpa henti, melainkan kepada "orang yang menanti-nantikan TUHAN."
Salah satu akar dari kelelahan jiwa adalah ketidaksabaran kita untuk diam menunggu Tuhan. Ada satu pernyataan yang bagus dari hamba Tuhan, Peter Scazzero yang berkata, "Kita dibentuk bukan dalam kesibukan, tetapi dalam keheningan. Kita dipulihkan bukan ketika memaksakan diri, tapi ketika kita mempercayakan diri kepada Tuhan dan menunggu-Nya bekerja dalam waktu dan cara-Nya. Beristirahat dalam Tuhan adalah tindakan iman. Itu menunjukkan bahwa kita percaya Tuhan tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak bisa melihat hasilnya." Masalahnya, banyak dari kita lebih suka "bergerak" daripada "diam", lebih suka "bekerja untuk Tuhan" daripada "diam di bawah kaki Tuhan". Padahal menantikan Tuhan adalah salah satu tindakan paling rohani, di mana kita belajar menyerahkan kontrol kita, menjadi sadar akan kehadiran Tuhan, dan diubahkan di dalam diri kita sebelum melakukan hal-hal di luar diri kita, sebab di sanalah Tuhan dapat bekerja secara mendalam. Diam bersama Tuhan adalah tempat di mana kekuatan sejati dilahirkan. Itu adalah saat untuk mengganti kekuatan kita yang terbatas dengan kekuatan Tuhan yang tak terbatas. Saat di mana kita mengalami kedamaian yang melampaui segala akal. Saat ketika Tuhan menyembuhkan luka kita, memurnikan motivasi kita, dan mempersiapkan kita untuk dipakai-Nya dengan cara yang lebih bermakna. Karenanya, mari luangkan waktu setiap hari untuk menanti Tuhan, diam dengan tenang, menyadari kehadiran-Nya, dan menyerahkan segala kekhawatiran kita. Latih diri kita untuk menikmati keheningan bersama Tuhan sebagai sumber kekuatan dan pembaruan hidup kita. Hargai waktu hening itu sebagai bentuk menunggu Tuhan dan mendengarkan-Nya untuk berbicara kepada kita. [RS]