Pelayanan bukanlah panggung manusia untuk menunjukkan kehebatan, melainkan tempat kudus di mana kita menyerahkan diri, sehingga kehendak dan karya Tuhan dinyatakan di dalam dan melalui kita. Sayangnya, banyak orang melayani tanpa kesadaran bahwa pelayanan adalah pekerjaan Tuhan. Program terlaksana, materi terkumpul, dan ibadah berjalan, tetapi dilakukan tanpa kedalaman rohani. Pelayanan menjadi formalitas, bukan perjumpaan dengan Tuhan.
Kita harusnya sadar, kita sangat membutuhkan kuasa serta kasih karunia Allah untuk pelayanan, dan kita perlu mencarinya melalui doa dan puasa. Doa membawa kita masuk ke hadirat Tuhan—di sanalah kita menyelaraskan hati, menundukkan kehendak, dan membuka telinga rohani. Puasa membawa kita merendahkan diri—di sanalah kita mematikan daging, menajamkan kepekaan rohani, dan memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Pelayanan yang lahir dari doa dan puasa akan menjadi manifestasi karya Tuhan melalui hidup yang dipersembahkan. Kita belajar dari Yesus. Sebelum Ia melayani manusia, Ia berpuasa dan berdiam di hadapan Bapa. Pelayanan publik-Nya dimulai setelah kemenangan rohani di padang gurun (Luk 4:1-2, 13-14). Demikian juga dengan gereja mula-mula. Mereka berdoa dan berpuasa sebelum mengutus Barnabas dan Saulus, dan begitu pula yang mereka lakukan saat mengangkat dan menyerahkan pemimpin jemaat kepada Tuhan (Kis 13:2-3; 14:23). Kita melihat, pelayanan yang dimulai dan dipersiapkan dalam doa dan puasa menghasilkan otoritas rohani yang melampaui kemampuan manusia. Ini menunjukkan satu prinsip rohani: pekerjaan Tuhan harus dimulai dengan cara Tuhan. Kuasa pelayanan tidak lahir dari sekadar talenta, pengalaman, atau strategi, tetapi dari kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan. Tanpa doa dan puasa, pelayanan kita mudah digerakkan oleh ambisi, emosi, atau tekanan. Tetapi dengan doa dan puasa, pelayanan digerakkan oleh Roh Kudus. Karena itu, berdoa dan berpuasalah sebelum melayani. Sebelum memikirkan hal-hal yang akan dilakukan, datang kepada Tuhan dan serahkan hati. Letakkan motivasi, kekhawatiran, bahkan ambisi di hadapan Tuhan, berdoalah "Tuhan, pelayanan ini milik-Mu. Bersihkan hatiku, luruskan motivasiku, dan jadikan aku alat-Mu." Tundukkan daging agar roh lebih peka melalui puasa sebagian, puasa satu waktu makan, atau puasa penuh sesuai kemampuan dan tuntunan Tuhan. Gunakan waktu di mana kita biasa makan untuk berdoa, bukan hanya menahan lapar sambil bermain gadget. Di saat pelayanan, diam 3-5 menit, berdoa dalam hati, dan tetaplah terhubung dengan tuntunan Roh Kudus. [LS]