Dalam kitab Kejadian 6:11–21, kita membaca perintah Tuhan kepada Nuh untuk membangun sebuah bahtera atau kapal yang sangat besar. Pada waktu itu, situasi terasa cukup aneh karena cuaca masih sangat panas dan bumi belum pernah mengalami hujan badai yang dahsyat. Meskipun perintah tersebut terdengar tidak masuk akal bagi logika manusia, Nuh memilih untuk tetap menaruh percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Ia tidak menunda-nunda pekerjaan, tidak banyak mengeluh, dan tidak meragukan firman Tuhan, melainkan langsung bertindak taat untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan-Nya. Setiap hari, Nuh bekerja keras memotong kayu, memasang paku, dan menyusun bagian-bagian kapal sesuai dengan petunjuk rinci yang Tuhan berikan. Mungkin banyak orang di sekitarnya yang merasa heran atau bahkan menertawakan tindakan Nuh, namun ia tetap setia dan tekun hingga bahtera tersebut selesai dengan sempurna. Iman Nuh tidak hanya tersimpan di dalam hati, tetapi terpancar nyata melalui perbuatannya. Hal ini selaras dengan ayat hafalan kita dalam Yakobus 2:17 yang menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Beriman berarti tidak hanya percaya di dalam pikiran, tetapi juga menunjukkan kepercayaan itu melalui ketaatan yang nyata terhadap firman Tuhan.
Hari ini, kita pun dapat membuktikan iman kita melalui perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Beriman kepada Tuhan berarti kita bersedia menunjukkan ketaatan dengan cara mendengarkan firman Tuhan, mematuhi nasihat orang tua serta guru, senantiasa berkata jujur, dan ringan tangan dalam menolong teman. Saat kita memilih untuk melakukan hal-hal baik tersebut, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa iman kita kepada Tuhan adalah iman yang hidup. Mari kita berkomitmen untuk menunjukkan iman kita bukan sekadar melalui kata-kata, melainkan melalui tindakan nyata yang memuliakan nama Tuhan setiap hari. [VW]