Bayangkan jika kamu melakukan sebuah kesalahan di sekolah, misalnya secara tidak sengaja memecahkan vas bunga milik guru. Tentu kamu seharusnya menerima hukuman karena kesalahan tersebut. Namun, tiba-tiba seorang sahabat yang sangat menyayangimu datang dan berkata kepada guru, "Biarlah saya yang menerima hukumannya, jangan hukum teman saya." Sahabatmu itu rela dihukum padahal ia tidak melakukan kesalahan apa pun, hanya karena ia sangat mengasihi kamu.
Kisah yang jauh lebih luar biasa dari itu dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita. Dalam Yesaya 53:4-6, Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Yesus akan datang untuk menanggung segala penyakit, kesengsaraan, dan dosa-dosa manusia. Kita semua seperti domba yang sesat; kita sering melakukan kesalahan, tidak taat kepada orang tua, atau menyakiti hati teman. Seharusnya, kita yang menerima hukuman atas dosa-dosa tersebut. Namun, karena kasih-Nya yang begitu besar, Yesus rela menderita dan menanggung hukuman yang seharusnya menjadi milik kita. Ia membiarkan diri-Nya terluka agar kita disembuhkan, dan Ia menanggung dosa kita agar kita diselamatkan. Yesus melakukan semua itu bukan karena Ia bersalah, melainkan karena Ia sangat mengasihimu dan ingin kamu berdamai kembali dengan Allah Bapa. Melalui pengorbanan Yesus, kita belajar bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang rela berkorban. Sekarang, kita tidak perlu lagi merasa takut atau terjebak dalam rasa bersalah, karena Yesus sudah membayar lunas semuanya. Mari kita menjalani hidup dengan rasa syukur dan kasih, sebagai bentuk terima kasih kita atas pengorbanan-Nya yang tiada tara. [EH]