Suatu hari, kelas Lala mendadak riuh! Keributan ini terjadi karena tercium bau yang sangat tidak sedap di dalam ruangan. Ibu Guru segera memeriksa asal bau tersebut, dan ternyata aroma itu berasal dari tas milik Lala. Lala terkejut dan langsung memeriksa isi tasnya. Ternyata, bau busuk itu berasal dari kulit pisang yang lupa ia buang. Kulit pisang itu sudah membusuk dan menimbulkan bau yang mengganggu seluruh kelas. Segera, Lala membuangnya ke tempat sampah di luar kelas agar udara kembali segar.
Banyak dari kita yang tanpa sadar bersikap seperti Lala. Bedanya, bukan kulit pisang yang kita simpan, melainkan perasaan benci atau dendam. Saat kita merasa kesal dan tidak mau mengampuni teman atau keluarga, perasaan itu akan menumpuk di dalam hati kita. Pada awalnya, menyimpan kebencian mungkin terasa biasa saja. Namun, jika dibiarkan lama seperti kulit pisang yang membusuk, hati yang penuh kebencian akan memengaruhi ucapan dan perilaku kita. Orang yang menyimpan dendam biasanya menjadi mudah marah, suka mengingat kesalahan orang lain, bahkan ingin membalas kejahatan. Akibatnya, hidup menjadi tidak tenang dan kehilangan kedamaian. Dalam Efesus 4:31-32, Alkitab memerintahkan kita untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Mengapa harus dibuang? Karena hal-hal itu hanya akan mengotori hati kita. Sebaliknya, Tuhan ingin kita menjadi anak-anak yang penuh kasih, ramah, dan murah hati. Kita dipanggil untuk saling mengampuni, sama seperti Tuhan Yesus yang sudah terlebih dahulu mengampuni segala dosa kita. Saat kita merasa sulit untuk memaafkan, ingatlah betapa besarnya kasih Yesus yang tidak pernah menyimpan daftar kesalahanmu! [HJ]