Tigor sangat bersemangat menjaga peraturan sekolah. Ia merasa tindakannya memarahi teman yang melanggar adalah tindakan yang "benar" dan hebat. Namun, saat ditegur oleh gurunya bahwa caranya salah dan tidak penuh kasih, ia seketika terdiam dan sadar bahwa meski niatnya menjaga aturan itu benar, caranya justru menyakiti hati orang lain. Perasaan sadar akan kesalahan yang mendadak itu membuat hatinya melunak dan ia pun bersedia meminta maaf serta belajar cara yang lebih baik.
Kisah di atas mencerminkan pengalaman Saulus dalam bacaan hari ini. Saulus adalah seorang yang sangat taat pada hukum agama. Ia merasa bahwa tindakannya menangkap dan memusuhi pengikut Yesus adalah tugas mulia untuk "membela" Tuhan. Ia sama sekali tidak merasa sedang berbuat dosa; ia merasa tindakannya sudah benar. Namun, di tengah perjalanan menuju Damsyik, Yesus tidak membiarkan Saulus terus terjebak dalam keyakinan yang salah. Yesus menyapanya dengan cahaya dari langit yang terang benderang. Sapaan Yesus, "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?", seketika menghentikan langkahnya. Saulus jatuh ke tanah dan kehilangan penglihatannya selama tiga hari. Dalam masa itulah, Tuhan "merajut ulang" hati Saulus. Ia sadar bahwa selama ini ia salah arah. Tuhan mengubah hati Saulus yang tadinya penuh dengan ketegasan yang salah arah menjadi hati yang penuh dengan kasih dan kerendahan hati. Kuasa Yesus yang menghentikan langkah Saulus adalah kuasa yang sama yang sanggup menyapa hati kita hari ini. Yesus adalah pribadi yang hidup. Ia sanggup menyapa kita saat kita salah langkah, menghentikan kebiasaan buruk kita, dan mengubah hati kita menjadi anak yang baik dan menyenangkan hati-Nya. Tidak ada hati yang terlalu keras untuk diubahkan oleh kasih-Nya. [NAW & EH]