Sebuah surat kabar di Inggris pernah mengadakan perlombaan untuk definisi terbaik dari seorang sahabat. Definisi dari pemenangnya berbunyi, "seorang sahabat adalah orang yang datang ketika seluruh dunia pergi." Definisi ini secara tidak langsung memberikan kita pengertian yang lebih dalam bahwa seorang sahabat ialah mereka yang datang ketika semua orang melupakan dan mengabaikan kita, ketika kita hanya sendiri, atau ketika kita berada di titik terendah. Kita mungkin hanya menemukan segelintir orang dengan karakteristik demikian. Namun tahukah Anda, setiap orang percaya dikaruniakan Allah Pribadi yang menjadi sahabatnya tanpa batasan ruang, waktu, dan keadaan. Pribadi itu senantiasa bersama kita. Pribadi yang dapat menembus dan mengubah kekompleksan jiwa manusia, yaitu Roh Kudus.
Para murid mengalami kesedihan mengetahui Yesus akan pergi dari mereka (Matius 17:23). Sesaat sebelum Yesus disalibkan, Ia menghabiskan waktu bersama para murid untuk memberi tahu mereka hal yang penting, Ia menjanjikan seorang Sahabat yang akan tinggal di dalam diri mereka masing-masing, yaitu Roh Kudus. Ia-lah Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yang mengajar orang percaya (Yohanes 14:26), membaptis mereka (1 Korintus 12:12-13), membimbing mereka (Roma 8:14), dan berdoa untuk mereka (Roma 8:26). Kebenaran ini mendukung kebenaran bahwa Roh Kudus adalah seorang Pribadi, itu pula sebabnya kita dapat memiliki hubungan yang karib dengan-Nya. Sebab menjadi orang percaya artinya berada dalam hubungan pribadi dengan Allah Tritunggal, termasuk dengan Allah Roh. Layaknya seorang sahabat, kita pun perlu mengembangkan kepekaan terhadap Roh, sifat karakteristik-Nya, pekerjaan-Nya, serta kesukaan dan ketidaksukaan-Nya. Dengan menjadikan Roh Kudus sebagai sahabat kita, kita dapat bersikap seperti Yeremia yang dapat menyadari ketidaksenangan Tuhan (Yeremia 6:11), baik itu atas dosa-dosa kita, dosa teman-teman kita, komunitas, atau bangsa kita. Kita pun dapat merasakan kehadiran dan kekuatan Roh, sama seperti ketika Yesus dicobai di padang gurun, dan juga ketika Ia membuka dan menemukan tulisan Yesaya, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku…" (Lukas 4:17-19), Ia cakap membedakan kehadiran Roh Kudus pada dirinya untuk melakukan pelayanan, setelah sebelumnya Iblis pun menggunakan firman Allah untuk mencobai-Nya. Roh Kudus melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam diri orang percaya. Saat kita memupuk hubungan dengan-Nya seperti seorang sahabat, kita mampu memahami lebih banyak karya Roh yang berdampak luar biasa di dalam dan melalui hidup kita. [LS]