Alkisah seekor burung sedang terbang di langit yang cerah. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang terbang di sampingnya. Benda itu sebenarnya adalah layang-layang. Namun burung itu mengira bahwa benda itu adalah burung jenis lain. Ia mencoba berbicara dengan layang-layang namun tidak mendapat respon. Burung itu semakin penasaran karena melihat cara terbang layang-layang yang berbeda. Ketika burung itu memperhatikan bahwa ada benang yang terikat di badan layang-layang dan dikendalikan oleh seorang anak kecil di daratan, burung itu berpikir bahwa layang-layang tidak bisa bebas bergerak karena anak kecil tersebut. Jadi ia menolong layang-layang agar bisa terbang bebas dengan cara mematuki benang sampai putus. Pada akhirnya benang berhasil diputuskan dan saat burung itu berpikir sekarang layang-layang bisa terbang bebas dan bermain dengannya, layang-layang malah terombang ambing oleh angin, makin lama makin turun, dan akhirnya jatuh ke tanah.
Disadari atau tidak, hubungan kita dengan Tuhan layaknya layang-layang di tangan anak kecil dalam perumpamaan di atas. Kita diangkat dari tanah dan perlahan-lahan mulai terbang naik dalam pengawasan dan penjagaan tangan Tuhan. Tentu saja dalam proses terbang tidaklah selalu mulus. Kita bisa bergumul dengan angin dan badai kehidupan, bahaya tersangkut di satu titik dan tidak bisa lepas, bahkan campur tangan orang lain yang berasumsi bahwa akan lebih baik jika kita putus hubungan dengan Tuhan. Dalam perjalanan mengikut Tuhan, kita pun mungkin akan merasakan tantangan dari dalam diri sendiri seperti jenuh rohani, merasa sangat terkekang dan ingin mencoba lepas dari Tuhan. Kita terkadang lupa bahwa sebenarnya tali itulah satu-satunya koneksi yang menjaga kita agar kita bisa tetap terbang. Detik ketika tali itu terputus, nasib kita akan sama seperti layang-layang, mulai diombang-ambingkan angin dan berakhir entah dimana. Bacaan Alkitab kita mengatakan bahwa Tuhan adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-Nya, diluar Ia kita tidak dapat berbuat apa-apa. Tuhan adalah sumber segala yang kita perlukan sekaligus penjaga yang baik, Ia selalu punya cara untuk memelihara kita asalkan kita senantiasa terhubung dengan Dia. [EV]