The Marshmallow Test adalah tes yang menguji keterampilan anak dalam menunda keinginannya. Psikolog Walter Mischel mengadakan penelitian ini dengan melibatkan 653 anak berusia 4-5 tahun yang dibawa ke dalam ruangan dan masing-masing diberi satu marshmallow. Mereka diminta untuk tidak menyentuh dan memakannya selama 15 menit tanpa pengawasan. Jika berhasil mereka akan mendapat satu marshmallow tambahan. Setelah 20 tahun, peneliti mendata kembali. Hasilnya, anak-anak yang mampu menahan diri tumbuh dengan konsentrasi dan logika yang sangat baik, mampu memelihara persahabatan, dan memiliki daya tahan dalam menghadapi tekanan. Riset ini menunjukkan bagaimana kesabaran memiliki pengaruh positif pada anak-anak untuk jangka panjang.
Kesabaran sudah seharusnya kita miliki sebagai karakteristik dan buah roh dari kehidupan orang percaya. Dalam bahasa asli kesabaran, yaitu "makrothumia", berarti kapasitas untuk dianiaya dan tidak membalas. Ini merupakan kemampuan untuk menahan perasaan atau bertahan di bawah kekeliruan dan kesalahan yang diderita tanpa membalas. Itu diwujudkan dalam kualitas kesabaran di bawah provokasi. Ini juga digunakan untuk kesabaran Allah terhadap manusia berdosa (Roma 2:4; 2 Petrus 3:15). Kita dapat melihat sikap Daud ketika mendapat penghinaan pedas dari Simei. Ucapannya yang kasar membuat Abisai, pengawal Daud, sampai-sampai ingin memenggal kepala Simei. Tetapi Daud menahannya dan memilih untuk tidak sakit hati apalagi membalasnya (2 Samuel 16:7-10). Kesabaran demikianlah yang harus ditunjukkan oleh kita. Dalam keseharian, ada banyak hal yang menguji kesabaran. Mulai dari hal-hal umum seperti diserobot di jalanan atau di antrean, mendapat tanggapan kasar, bunyi telepon penawaran terus-menerus, sikap rekan kerja atau anak-anak yang enggan menanggapi, sampai kepada perilaku buruk orang-orang terhadap kita. Kesabaran itu bahkan dibutuhkan khususnya dalam menanggapi "perlakuan buruk" dari orang-orang terdekat, bahkan keluarga, yang tidak mungkin kita jauhi. Bisa jadi mereka adalah orang-orang terluka yang membutuhkan kasih kita, dan itu hanya bisa kita hadapi dengan kesabaran. Jika hidup kita dipimpin oleh Roh, sejatinya kita memiliki kesabaran. Kita harus belajar menanggungnya tanpa menggerutu, tidak lekas marah dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Teruslah bersabar sebagaimana panjang sabar Kristus terhadap kita. [RS]