Ketika kita bersahabat dengan seseorang, maka satu hal yang pasti kita lakukan adalah menjaga hubungan dengannya. Semakin dekat dengan seseorang, kita akan semakin mengenal kepribadiannya, tahu apa yang disukai dan tidak disukainya, termasuk hal-hal apa saja yang dapat menyakiti hatinya. Roh Kudus bukanlah konsep abstrak, atau pun sekedar kuasa atau kekuatan. Roh Kudus mempunyai kepribadian serta perasaan.
Sebagai orang percaya, Roh Kudus seharusnya menjadi Pribadi yang paling dekat dengan kita, lebih intim dari siapa pun. Ia-lah Pribadi yang dikaruniakan oleh Allah sendiri untuk menolong setiap kita. Namun sadarkah kita, bahwa menjadi pribadi yang dekat dengan Roh Kudus membuat kita berpotensi untuk dapat mendukakan-Nya? Sebab sebagai manusia, kita sangat berpotensi mengecewakan Roh Kudus (Yesaya 63:10). Kendati demikian, respon kita akan menentukan apakah kita akan membuat hati Sahabat kita terluka atau tidak. Perasaan-Nya akan terluka ketika kita mengabaikan teguran serta peringatan-Nya saat kita berbuat dosa, bahkan melawan kehendak-Nya dengan terus menerus hidup di dalam dosa. Jangan sampai kita tak lagi memiliki kepekaan terhadap suara Roh Kudus, ini adalah hal yang akan membinasakan kita oleh karena nafsu yang menyesatkan. Karenanya, kita semua dapat memiliki hubungan yang intim dengan Roh Kudus dengan cara lebih memperhatikan segala perkataan serta tindakan kita. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita dapat memahami apa yang berkenan dan tidak bagi Roh Kudus. Buanglah perkataan yang tidak berfaedah, dan perkatakanlah sesuatu yang membangun. Kenakan manusia baru, hiduplah seperti orang-orang yang mengenal Allah dan kebenaran-Nya! [KH]