Setelah mengajarkan bahwa kebebasan sejati hanya didapatkan melalui iman kepada Kristus, rasul Paulus melanjutkan pengajarannya dengan mulai menasihati jemaat di Galatia supaya mereka menjalankan kebebasan mereka dengan benar, dengan tidak lagi menjadi budak dosa maupun terikat pada hukum Yahudi. Paulus menasihati jemaat dan juga kita untuk menggunakan kebebasan itu untuk melayani seorang akan yang lain oleh kasih (Galatia 5:13-14). Ini dapat kita lakukan melalui kehidupan yang dijalani dengan kuasa dan arahan dari Roh Kudus (ayat 16). Dengan begitu kita tak lagi dikendalikan oleh kedagingan, melainkan menghasilkan buah kehidupan yang dipimpin oleh Roh. Paulus mengungkapkan kehidupan rohani yang berbuah pada sembilan kebajikan, salah satunya adalah penguasaan/pengendalian diri.
Kata "penguasaan diri" berasal dari akar kata "egkrates" yang berarti memiliki kekuatan, kekuasaan, dan kokoh. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus menggunakan kata kerja "egkrateuomai". Ia ingin menekankan bahwa tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, harus melatih pengusaan diri. Anda mungkin ingin melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman, Anda mungkin memberontak, memukul, memaki, mengutamakan kepentingan diri sendiri, atau Anda tidak ingin melakukan hal yang seharusnya Anda lakukan. Latihlah penguasaan diri untuk melakukan hal yang benar dengan cara yang benar. Begitu banyak hal dalam hidup ini yang bergantung pada disiplin penguasaan diri. Kehidupan pelayanan Paulus sebagai rasul dan pemberita Injil membuka mata kita bahwa kita benar-benar harus bergantung pada Roh mengenai penguasaan diri, termasuk hal-hal yang mungkin memberkati kita, belum tentu memberkati orang lain. Roh Kudus Tuhan yang hidup di dalam diri kitalah yang akan memberi kita pengetahuan dan kekuatan untuk menguasai diri. Ketika kita tunduk pada tuntunan-Nya, Roh Kudus memampukan kita untuk menjalani kehidupan yang penuh penguasaan diri. Jika Anda bisa tunduk pada disiplin di pendidikan, di kantor, di bisnis, atau di institusi yang begitu keras, bukankah seharusnya orang Kristen yang ditolong Roh Kudus melakukan hal yang sama untuk mahkota kebenaran yang kekal? [LS]