Musa adalah seseorang yang sangat lembut hatinya. Ketika Harun dan saudara perempuannya Miryam memberontak dan mengatai Musa karena menikahi seorang perempuan Kush yang bukan dari bangsa Israel, Musa tidak membalas dengan emosi atau dendam. Sebaliknya, ia tetap bersikap tenang, lemah lembut, bahkan memohon kepada Tuhan untuk menyembuhkan Miryam yang dihukum Tuhan dengan penyakit kusta. Dari sini kita tahu bahwa kelemahlembutan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Ini adalah kemampuan untuk tetap tenang, sabar, dan berkepala dingin dalam menghadapi situasi sulit. Ini mencakup kepedulian terhadap orang lain, bahkan ketika kita tidak setuju atau sedang berkonflik dengan mereka. Kelembutan hati menciptakan kemauan untuk tetap mendengarkan dan memahami, daripada memaksakan diri dengan pemikiran dan cara kita sendiri.
Saat kita mengijinkan Roh Kudus berkarya dalam hidup kita, kelemahlembutan akan memancar dari diri kita sebagai buah Roh. Kelemahlembutan membantu kita membangun hubungan yang sehat, menyelesaikan konflik, dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Yesus sendiri menunjukkan belas kasihan terhadap orang berdosa dan mengampuni mereka yang menganiaya-Nya. Bahkan dalam menghadapi penderitaan-Nya sendiri, Ia tetap menunjukkan kelemahlembutan. Tuhan Yesus juga mengundang kita untuk datang dan belajar dari-Nya, karena Ia lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29). Sebagai murid Kristus, marilah kita mengikuti teladan Kristus dengan berusaha menunjukkan kasih dan kelemahlembutan kepada semua orang yang kita temui, bahkan terhadap orang-orang yang menyakiti kita. Roh Kudus pasti akan menolong kita. [IR]