Kesehatan emosi kita adalah aspek penting dari kehidupan spiritual kita. Emosi mengotentikasi pemahaman kita terhadap kebenaran, itu karena pola emosi kita akan menggambarkan tentang apa yang kita yakini dan hargai. Kita sepakat dengan pengajar Jon Bloom bahwa emosi dirancang Tuhan dalam diri kita bukan sebagai pengatur, melainkan sebagai pengukur, emosi bukan untuk mendikte, melainkan melaporkan kepada kita. Ekspresinya berupa rasa senang, takut, sedih, marah, kaget dan lainnya. Kita memiliki emosi karena kita diciptakan menurut gambar Allah yang juga memiliki emosi. Kaitannya dengan Roh Kudus sebagai Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal bahwa Ia-lah agen utama yang berinteraksi dengan kita sebagai manusia. Roh Kudus yang memiliki emosi, akal budi, dan kehendak (1 Korintus 2:10; Efesus 4:30; Roma 8:26-27), memiliki peran mendasar dalam kehidupan emosional orang percaya.
Kita harusnya menyadari bahwa keberadaan Roh Kudus di dalam diri kita adalah berkat yang tak ternilai, sebagaimana yang Yesus katakan bahwa lebih berguna jika Ia pergi, sehingga Roh Kudus datang untuk tinggal di dalam kita. Roh Kudus menekankan pekerjaan Tuhan jauh ke dalam batin kita. Ia berduka ketika kita berkomunikasi secara negatif dan tidak mau mengampuni (Efesus 4:25-32), Roh Kudus juga menahan kita dari persahabatan dengan dunia, Ia cemburu ketika kita terjebak dengan dunia (Yakobus 4:4-5), Roh Kudus membantu kita berdoa, Ia-lah yang menjadi perantara bagi kita. Pekerjaan Roh Kudus sangat bersifat emosional dan turut mempengaruhi emosi kita. Kita mungkin pernah berada jauh dari persekutuan dengan Roh Kudus, kita mungkin mengalami emosi-emosi yang sulit seperti amarah, rasa bersalah, takut, khawatir, kesepian, atau bosan. Tapi ketahuilah bahwa stabilitas dan kesehatan emosi kita sangat ditentukan pada hubungan kita dengan Roh. Mereka yang hidup menurut Roh pandangannya dibentuk oleh hal-hal dari Roh (Roma 8:5). Kita perlu menyerahkan emosi kita pada kendali Roh Kudus, biarlah emosi kita dibimbing oleh kebenaran. Ia-lah yang menghasilkan pengendalian diri dalam diri kita. Mari luangkan waktu untuk mengarahkan pikiran kita kepada Tuhan, kendalikan imajinasi dan perspektif kita. Ketika kita menyerahkan sepenuhnya hidup kita dipimpin oleh Roh, kita akan menghasilkan emosi yang didasarkan pada kebenaran. Seperti yang dikatakan Charles Swindoll, bahwa melalui peranan Roh dalam hidupnya, emosinya dibimbing dan dituntun untuk membuat keputusan penting, memperingatkannya untuk mundur, dan menegurnya untuk sesuatu yang memerlukan perhatian segera. [LS]