Saat diperhadapkan dengan penderitaan, kira-kira perkataan apa yang keluar dari mulut kita? Saat Ayub mendengar pencobaan menimpanya begitu rupa, kata pertama yang keluar dari mulutnya ialah, "Terpujilah nama Tuhan!" Sadarkah kita bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita saat diterpa oleh masalah menunjukkan kualitas iman kita? Ini sesuatu yang tak bisa dibuat-buat, dimanipulasi, dan lahir dari hati terdalam yang menggambarkan keadaan hati kita sebenarnya. Ini berbicara mengenai kerelaan hati kita dalam menerima poses Tuhan.
Setiap kita hidup mengalami proses masing-masing. Tetapi mari kita lihat kepada Tuhan Yesus, teladan agung kita. Saat Yesus datang ke dunia ini sebagai manusia, Ia tak langsung disalib. Yesus juga tak hanya berteofani atau menampakkan diri dalam sosok yang dapat dirasakan oleh indera manusia. Ia tak seperti malaikat yang hanya datang saat ada misi, lalu pergi kembali ke takhta-Nya, dan datang kembali saat diperlukan. Tetapi Dia berinkarnasi, layaknya manusia, Ia menanggung penderitaan. Sulit membayangkan, sejak lahir Yesus harus menderita dengan lahir di kandang, melewati masa-masa bayi yang harus mengungsi dan dikejar-kejar untuk dibunuh. Memasuki masa remaja, menjadi tukang kayu dan harus menjaga adik-adik-Nya. Dalam pelayanan Ia dikata-katai, bahkan disebut sebagai orang gila oleh keluarga-Nya sendiri. Alkitab mencatat, Yesus menangis sampai meratap, dan berdarah-darah menanggung derita-Nya. Disakiti namun tidak tersakiti, dikhianati namun tidak terkhianati. Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Semua Yesus lalui untuk menjalani proses-Nya menjadi Korban yang Sempurna. Bukankah ini seharusnya menjadi acuan kita? Berapa lama kita akan terus menggerutu di tengah masalah yang mau tak mau harus dilalui, terus-menerus protes dan menuntut hal-hal agar sesuai keinginan kita? Bukankah sebagai orang yang beriman, iman kita harus teruji? Ingat, Tuhan menilai hati kita. Sampai hati kita benar-benar rela dibentuk, menjalani proses sesuai kehendak Tuhan, di situlah kemuliaan Tuhan akan dinyatakan. Ketika hati kita percaya bahwa Tuhan masih memegang kendali atas kehidupan, maka hal ini akan membuat kita mampu menjalani proses tanpa protes. [RS]