Di dalam pengelolaan organisasi, lembaga, atau pemerintahan, pengawasan dibutuhkan untuk mencapai tata kelola yang baik (good governance). Salah satunya melalui "whistle-blowing system", yaitu sistem pelaporan suatu perbuatan yang diduga pelanggaran. Seorang "whistleblower" sendiri adalah "orang dalam" yang mengungkap dugaan pelanggaran yang terjadi di tempatnya bekerja. Keberadaan seorang "whistleblower" menjadi sangat penting dalam upaya pembuktian suatu masalah.
Keberadaan "whistleblower" tidak hanya dibutuhkan di dalam organisasi atau lembaga formal. Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, "whistleblower" bisa jadi adalah orang terdekat kita, pasangan kita, orang tua, anak, pemimpin di gereja, atau Core Leader. Keberadaan kita sebagai manusia yang memiliki kecenderungan berdosa, di mana tidak ada seorang pun yang menjamin dirinya selalu benar dan tidak pernah melakukan dosa, kita semua memiliki "blind spot" (titik buta). Daud tidak berencana tidur dengan Batsyeba, namun keinginan yang berdosa itu muncul ketika ia sedang berjalan-jalan dan melihatnya dari atas sotoh istana. Dosa ini terus berlanjut hingga ia membunuh Uria. Alkitab mencatat apa yang dilakukan Daud adalah jahat di mata Tuhan, maka Ia mengutus Nabi Natan untuk menjadi seorang "whistleblower" dalam kasus Daud. Setelah kejahatannya terungkap, Daud mengaku dosa, menyesalinya, dan menghadapi konsekuensi dosanya. Bukan hanya Raja Daud yang membutuhkan "whistleblower", melainkan kita semua tanpa terkecuali. Jangan marah jika ada yang mengungkap pelanggaran kita, bersikaplah terbuka atas koreksi dan siap untuk berubah melakukan yang benar. Bapa akan mendidik dan mengingatkan kita, anak-anak-Nya, ketika kita keluar jalur (Ibrani 12:4-6), dan kitab Amsal menuliskan, "Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat (Amsal 10:17). [MLS]