Mari bayangkan sejenak, Anda sedang memegang gelas berisi teh, kemudian tiba-tiba seseorang menyenggol tangan Anda. Anggaplah teh dalam gelas yang Anda pegang tumpah. Jika seseorang bertanya: "mengapa Anda bisa menumpahkan teh?", kira-kira apa jawaban Anda? Jika Anda menjawab "karena ada orang yang menyenggol tangan saya", sebetulnya jawaban itu kurang tepat. Anda menumpahkan teh, karena di dalam gelas Anda berisi teh. Jika gelas itu kosong, maka tidak akan ada yang tumpah. Jika gelas itu berisi kopi, maka kopi-lah yang akan tumpah. Apa pun yang memenuhi gelas Anda, akan tumpah keluar ketika Anda diguncang atau disenggol.
Prinsip yang sama berlaku pada diri kita. Saat kita lahir, kita semua bagaikan gelas kosong. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kita memenuhi diri kita dengan banyak hal seperti pola pikir, perasaan, kehendak, pengalaman, dan juga kebiasaan yang mungkin tidak kita sadari. Saat kita diperhadapkan dengan gangguan atau goncangan hidup, di saat itulah apa pun yang memehuni hati dan pikiran kita akan "tumpah" keluar. Jika kita terbiasa mengisi diri kita dengan pikiran yang negatif, maka yang keluar pun asumsi negatif. Jika kita mengisi diri kita dengan berita-berita buruk, maka yang keluar adalah ketakutan, hoax, dan pesimisme. Namun jika kita mengisi diri kita dengan firman Tuhan, maka yang keluar adalah perkataan-perkataan iman. Jika kita mengisi diri kita dengan berita-berita positif, maka yang keluar adalah antusiasme dan semangat. Perjalanan hidup ini penuh dengan guncangan, dan ketika hidup kita diguncang, kira-kira apa yang akan keluar dari diri kita? Paulus ingatkan agar kita mengisi diri kita dengan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Agar sekali pun hidup kita diguncang, kita tetap dapat bersukacita karena kita mengingat kasih karunia Tuhan serta janji-janji-Nya. [EV]