Pernahkah Anda berkecil hati karena ucapan yang mengecilkan dan melemahkan Anda? Beberapa dari kita begitu mudah kecewa, mundur, menjadi pahit hati mendengar ucapan yang melemahkan dan merendahkan kita. Namun tidak dengan Gideon. Sekali waktu, Gideon dan pasukannya yang sedang melakukan pengejaran terhadap raja-raja Midian, yaitu Zebah dan Salmuna, merasa lelah dalam pengejaran tersebut. Gideon pun meminta roti kepada orang-orang Sukot untuk rakyat yang mengikutinya. Namun Gideon malah mendapat jawaban pedas, "Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada tentaramu?" Hanya karena belum berhasil, orang-orang Sukot berpikir bahwa Gideon tidak layak mendapat belas kasihan mereka. Namun Gideon menjawab, "Kalau begitu, apabila TUHAN menyerahkan Zebah dan Salmuna ke dalam tanganku, aku akan menggaruk tubuhmu dengan duri padang gurun dan onak." Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Pnuel dan meminta hal yang sama. Sayangnya orang Pnuel memberi jawaban seperti orang Sukot. Jawaban Gideon kali ini adalah, "Apabila aku kembali dengan selamat, maka aku akan merobohkan menara ini." Gideon tidak menyerah. Kita dapati akhir dari kisah ini bahwa Gideon dan pasukannya berhasil menangkap Zebah dan Salmuna. Sesuai perkataannya, Gideon pun menunjukkan kepada orang-orang Sukot yang telah mencela mereka dan juga merobohkan menara Pnuel serta membunuh orang-orang kota itu. Semua itu didasari oleh keyakinan Gideon kepada janji Tuhan.
Dalam kenyataan hidup, inilah fakta yang harus kita terima. Ada saja orang yang tidak mendukung, tidak menghargai, dan mencela apa yang kita lakukan. Respon kita terhadap hal-hal demikian tak perlu menjadi ciut dan mundur. Jangan izinkan perkataan yang melemahkan merusak kepercayaan diri, merobohkan keyakinan kita kepada Tuhan, serta mengendalikan perasaan kita. Selagi yang kita lakukan benar, tetaplah lakukan yang terbaik, tetaplah percaya diri dengan melandasi keyakinan dan kepercayaan diri kita kepada Tuhan dan janji-janji-Nya bagi kita. [RS]