Alkitab menuliskan banyak pembelajaran tentang orang-orang yang memiliki hubungan yang salah dengan kekayaan dan harta benda. Saat Yerikho ditaklukkan, Akhan mengambil barang-barang yang dikhususkan bagi Tuhan. Hal ini menyebabkan Tuhan mendisiplinkan Israel dan juga konsekuensi kematian Akhan (Yosua 7). Ananias dan Safira mengalami kematian oleh karena kebohongan mereka soal harta benda, tepatnya hasil penjualan tanah (Kisah Para Rasul 5). Demas menjauh karena mencintai dunia (2 Tim. 4:10). Melalui khotbah di bukit, Yesus mengajar kita bagaimana seharusnya orang percaya berhubungan dengan kekayaan dan harta benda. Saat Yesus melarang kita mengumpulkan harta di bumi, maka salah satu hal yang mencakup ajaran itu adalah dorongan untuk hidup secara sederhana. Meski di kota-kota besar dorongan hidup sederhana telah menjadi tabu, tapi kita tidak mungkin mengabaikan teladan hidup Tuhan kita, Yesus Kristus.
Kehidupan sederhana adalah kehidupan yang bebas dari perbudakan harta benda dan stress yang tidak perlu. Selain perubahan eksternal, hidup sederhana juga mencerminkan pola pikir serta nilai-nilai seseorang. Yesus menjalani kehidupan yang sederhana, namun di sisi lain kita melihat kualitas kehidupan spiritual-Nya begitu kaya, Ia juga memiliki waktu yang berkualitas bersama para murid. Ia berpesan kepada para murid untuk tidak membawa apa-apa selain tongkat dalam perjalanan mereka (Mark. 6:7-8). Terlalu banyak barang dapat menghambat perjalanan dan tujuan mereka yang utama. Dari sini kita paham bahwa dengan menjalani kehidupan yang sederhana, kita dapat berfokus pada hal-hal yang lebih prioritas. Sebagaimana perintah Yesus selanjutnya, "Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga". Kita dilarang menimbun harta di bumi karena panggilan kita adalah untuk membagikan Injil dan menjalin persahabatan melalui berkat yang Tuhan percayakan agar orang lain mengenal Kristus. Jadi, praktikkanlah kesederhanaan melalui dua cara, pertama-tama ialah mendidik diri kita untuk merasa cukup, sebab kita tidak membawa apa pun ke dunia dan tidak membawa apa-apa ke luar, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Tim. 6:6-8). Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kemudian dengan merasa cukup, kita bisa mempraktikkan kesederhanaan melalui cara yang kedua, yaitu memberi lebih banyak. Daripada terus menimbun barang-barang baru di rumah, dimana ngengat dan karat merusakkannya, lebih baik kita melindungi hati kita dengan rasa cukup dan berbuat lebih banyak untuk kerajaan Allah. [LS]