Kepemilikan dan pembelian barang serta jasa, sebagai jalan menuju kebahagiaan dan status sosial telah menguasai pola pikir dunia. Perusahaan periklanan, Dentsu, memperkirakan pengeluaran iklan global di tahun 2024 mencapai 12 kuadriliun. Dunia kita didorong oleh media dan nilai-nilai yang menekankan kepemilikan materi sebagai indikator kesuksesan dan juga kebebasan finansial. Dunia berkata seseorang bebas finansial ketika ia dapat membeli apa saja dan menjadi apa pun yang diinginkan hatinya. Karena definisi yang egois, maka rumusnya juga salah. Akhirnya seperti kata firman, bahwa mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
Sebagai orang percaya, kita harus berjaga-jaga dan waspada terhadap ketamakan, sebab sekali pun seseorang berlimpah harta, hidupnya tidak tergantung dari kekayaan tersebut. Kebahagiaan, kedamaian, dan kepuasan tidak bergantung pada kepemilikan dan kekayaan. Jadi, kebebasan finansial menurut firman Allah sudah pasti berbeda dengan dunia ini. Kebebasan finansial yang alkitabiah mencakup tiga hal. Pertama, bebas dari perbudakan hutang (Amsal 22:7; Roma 13:8; Amsal 22:26-27; Ulangan 28:44), sebab kita butuh kebijaksanaan ekstra untuk berurusan dengan hutang, dan hutang akan mempengaruhi keseluruhan hidup kita. Kedua ialah dapat memenuhi standar hidup yang layak. Indikatornya adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sedangkan tantangannya adalah gaya hidup. Berdoalah seperti Agur, "beri aku secukupnya untuk memenuhi kebutuhanku" (Amsal 30:8 NLT). Kemudian yang ketiga dan tidak kalah penting adalah melalui keuangan kita, kita dapat melakukan pekerjaan Tuhan di bumi. Yesus katakan mereka yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri tetapi tidak berusaha menjadi kaya di mata Allah adalah orang bodoh (Lukas 12:20-21). Berkat yang meningkat dari hari ke hari, bukan untuk meningkatkan standar gaya hidup, melainkan untuk meningkatkan standar pemberian kita. Percayalah, ketika kita tidak menjadi budak hutang, memiliki standar hidup yang layak, dan turut serta dalam pekerjaan Tuhan, di titik itulah Anda bebas mengatur uang Anda, bukan uang yang mengatur Anda. Itulah kebebasan yang sejati. [LS]