Setiap orang bisa merasa kesepian. Seperti yang dialami oleh Paulus, ia kesepian karena sahabatnya Demas telah meninggalkannya. Ditambah lagi, kini Paulus mendekam di penjara menunggu saat-saat terakhirnya. Dalam suratnya, Paulus berulang kali menyampaikan agar Timotius datang mengunjunginya. Paulus yang tidak memiliki anak, memiliki Timotius sebagai anak rohaninya, anak yang ia kasihi (1 Tim. 1:2). Tak mengherankan jika Paulus ingin bertemu dengan Timotius menanti hari eksekusinya itu. Setidaknya tiga kali Paulus menyatakan keinginan itu, menunjukkan betapa ia membutuhkan kunjungan tersebut, "Aku ingin melihat engkau kembali; Berusahalah supaya segera datang kepadaku; Berusahalah ke mari sebelum musim dingin." (2 Tim. 1:4; 4:9, 21). Paulus meminta sebelum musim dingin, karena saat musim dingin pelayaran akan terhenti. Bahkan Paulus telah mengatur agar Tikhikus pergi dan menjalankan tugas Timotius kalau-kalau Timotius berpikir tidak dapat meninggalkan pelayanan pastoralnya di Efesus (2 Tim. 4:12). Sebuah permintaan yang terkesan sederhana namun sangat berarti bagi Paulus saat itu. Baginya, saat mereka bertemu, maka penuhlah sukacitanya.
Kenyataan Paulus yang kesepian, menunjukkan kepada kita bahwa tak seorang pun kebal dengan rasa sepi, termasuk kita orang percaya. Bertemu dengan orang yang kita kasihi membawa sukacita tersendiri. Terkadang, yang dibutuhkan orang-orang terdekat kita hanyalah kehadiran kita bersamanya. Pertemuan ini memberi arti yang lebih bermakna dari banyak hal. Saat kita bertemu, hati terhibur dan sukacita meluap. Karenanya, selagi kita masih memiliki orang tua, jangan abai dan menganggap sepele kunjungan dan pertemuan. Sebisa mungkin atur jadwal yang rutin dan terencana untuk mengunjungi mereka. Pun dengan keluarga atau sahabat kita. Jika ada yang sedang sakit, menderita, dan membutuhkan, kunjungilah mereka, sebab inilah yang Tuhan Yesus kehendaki untuk kita lakukan. [RS]