Di era modern yang serba instan seperti sekarang, kita harus beradaptasi dengan gaya hidup serba cepat. Misalnya, menyelesaikan berbagai proyek dalam waktu singkat, sambil tetap mengutamakan performa. Tuntutan ini mendorong kita untuk mengejar produktivitas, berusaha menyelesaikan berbagai pekerjaan setiap harinya.
Memiliki gaya hidup produktif sangat baik. Namun sayangnya, karena tidak dijalankan secara seimbang, yang sering terjadi justru mengarah pada produktivitas yang bersifat destruktif atau toxic productivity. Kita mengabaikan aspek-aspek penting dalam kehidupan dengan mengukur produktivitas berdasarkan kuantitas, bukan kualitas. Kita berpikir bahwa dengan terus menambah daftar panjang pekerjaan atau memenuhi ekspektasi lingkungan yang tidak realistis, artinya sedang berkontribusi untuk kebaikan. Nyatanya, kita terjebak dalam siklus yang tidak sehat dan tidak seimbang. Buktinya, banyak orang merasa bersalah saat beristirahat, sehingga terdorong untuk terus bekerja tanpa mengenal waktu dan tempat. Banyak juga yang mengalami gangguan tidur karena pikiran yang tetap aktif meski tubuh sudah lelah. Padahal, Tuhan sendiri mencontohkan kita untuk beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan (Kejadian 2:2). Obsesi untuk menjadi produktif juga dapat berpengaruh pada relasi orang-orang terdekat. Dengan intensnya jadwal aktivitas, seberapa sering kita menghabiskan waktu bersama keluarga? Apakah kita sungguh-sungguh hadir pada momen itu atau jiwa kita terjebak dalam kegelisahan untuk segera melanjutkan pekerjaan? Yang paling utama, apakah kita masih memiliki waktu khusus untuk bertemu Tuhan melalui doa, saat teduh, pujian, atau penyembahan? Sebanyak apa pun pekerjaan, semalam apa pun kita menutup laptop, Salomo katakan, "Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?" Jangan karena terlalu fokus dengan hiruk-pikuk dunia, kita sampai melupakan Tuhan. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? Tuhan tentu tidak menghendaki aspek yang benar-benar penting dari hidup kita terenggut. Untuk itu, mintalah hikmat kepada Roh Kudus agar kita berani membuat batasan yang sehat, dapat menentukan setiap agenda harian dengan bijaksana, dan terbuka untuk mengkomunikasikan kapasitas kerja kepada pihak terkait. Jangan sampai terjebak dengan produktivitas yang tidak sehat, yang berujung pada rusaknya hubungan dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri. [SR]