Sementara banyak orang berjuang untuk mengendalikan emosi mereka yang meledak-ledak, tidak sedikit pula dari kita yang keliru dengan menekan atau menyimpan amarah kita, bahkan ada yang sampai di titik menyangkali eksistensi amarahnya. Akhirnya amarah yang terpendam ini menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak, dan sering kali dalam satu pemicu saja dapat seketika merusak hubungan kita dengan sesama. Anda tahu, ini banyak terjadi terutama di dalam organisasi rohani. Kemarahan yang tidak dikelola secara wajar bahkan jika itu adalah kemarahan yang benar dan tidak pernah diungkapkan, dapat berubah menjadi titik lemah yang dieksploitasi Iblis. Kita percaya ada prinsip alkitabiah yang dapat diterapkan dalam mengelola dan mengekspresikan amarah.
Di sepanjang sejarah Israel, kemarahan Allah dipicu oleh dosa umat-Nya. Dalam kitab Amsal, seorang raja dipandang sebagai sosok yang marah karena dosa (Amsal 14:34-35). Pun di dalam Perjanjian Baru, pemerintah ditetapkan secara ilahi untuk menimpakan murka kepada orang berdosa (Roma 13:4). Umat Allah secara natural bisa marah terhadap hal-hal yang membuat Allah marah. Jadi, pertama-tama tanyakan pada diri kita sendiri, "mengapa saya marah", "apa yang membuat saya begitu emosi", "apakah pribadi saya atau pekerjaan Tuhan yang diganggu", jika sebabnya berkaitan dengan alasan pribadi dan ego, lebih baik kita berfokus pada kasih, kesabaran, dan pengampunan. Selain karena dosa, kemarahan yang benar juga diungkapkan pada fokus pelanggaran yang tepat, tidak lepas kendali, dan disertai belas kasihan. Kemarahan yang benar tidak meledak-ledak, melainkan perlahan dan di waktu yang tepat, sebagaimana pesan Yakobus supaya kita lambat marah, karena orang yang cepat marah dan sedang marah cenderung tidak dapat menguasai dirinya (Yakobus 1:19-20). Yang terakhir dan tidak kalah penting, bahwa kemarahan yang benar perlu diungkapkan dan tidak perlu diperpanjang. Sebagaimana kata Paulus, "Be angry, and do not sin: do not let the sun go down on your wrath" (Efesus 4:26 NKJV). Jadi jika Anda marah, pastikan itu kemarahan yang benar dan jangan berbuat dosa, ungkapkan dengan cara yang alkitabiah dan segera padamkan amarahnya. [LS]