Di suatu pagi saat Perang Saudara Amerika tahun 1861-1865 berlangsung, Abraham Lincoln melakukan pertemuan dan sarapan bersama sekelompok menteri. Salah satu menteri berkata, "Tuan Presiden, mari kita berdoa semoga Tuhan ada di pihak kita." Namun tanggapan Lincoln tampaknya menunjukkan wawasannya yang lebih luas. Ia berkata, "Tidak, tuan-tuan, marilah kita berdoa agar kita berada di pihak Tuhan."
Tanggapan Lincoln membuat kita belajar untuk tidak memaksa Tuhan menyesuaikan diri-Nya dengan keinginan kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan respons kita dengan apa yang Tuhan kehendaki terjadi atas kita. Kita bisa melihat respons Raja Daud di tengah-tengah pengejarannya oleh Absalom, anaknya. Ketika ia sampai di Bahurim, seorang dari kaum keluarga Saul yang bernama Simei terus mengutukinya dengan kata-kata yang kasar dan melempari batu kepada Daud beserta orang-orangnya. Abisai yang bersama-sama dengan Daud sepertinya tidak tahan dengan penghinaan macam itu, sehingga ia berkata, "Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya." Respons Daud adalah, "Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?" Jika seseorang menghina Anda, jika seseorang mengatakan hal buruk di belakang Anda, jika seseorang menjatuhkan Anda, dapatkah Anda tetap melihat campur tangan Allah di dalam setiap hal dan memilih respons yang paling bijak? Kata Daud, "Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini." Ingat, yang dipertaruhkan dalam setiap respons kita adalah kemuliaan Tuhan. Maka dari itu, tenangkan hatimu, kendalikan responsmu dengan melihat campur tangan Allah dalam segala yang terjadi atas kita. Biarlah kita juga dapat berkata seperti Daud: Semoga Tuhan memperhatikan kesusahanku dan Tuhan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini. [LS]