Pada umumnya, orang akan lebih senang saat menerima atau menambah sesuatu, daripada harus mengurangi apa yang ia miliki. Namun saat membaca ayat Alkitab hari ini, sekilas kita mungkin berpikir, bagaimana bisa lebih bahagia memberi daripada menerima? Di dalam pelayanan Paulus, ia tidak pernah mengingini harta jemaatnya. Ia menunjukkan bahwa dirinya tidak takut akan kekurangan. Ia bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, kebutuhan teman-teman sepelayanannya, dan untuk membantu orang-orang yang lemah. Lebih lanjut ia mengingatkan kepada jemaat, dari apa yang Yesus pernah katakan, bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima. Kita harus tahu bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk lebih peduli terhadap apa yang dapat mereka berikan, daripada apa yang dapat mereka terima. Paulus juga menunjukkan bahwa kerja keras dan ketekunan dalam pelayanan harus diiringi dengan kemurahan hati.
Di dunia yang lebih mementingkan kepemilikan dan kekayaan, memberi menjadi tindakan "melawan arus" yang menunjukkan bahwa nilai-nilai Kerajaan Allah berbeda dengan nilai-nilai dunia. Berani memberi berarti siap untuk menanggalkan ego dan membuka diri terhadap kebutuhan orang lain. Keberanian dalam memberi adalah refleksi dari iman yang sejati. Ketika kita memberi, kita mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan. Hal ini menumbuhkan rasa syukur dan mengurangi ketergantungan pada harta duniawi. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi sesama, sehingga melalui tindakan kita, orang lain dapat merasakan kasih Tuhan. Ini bukan hanya tentang materi, tapi juga tentang waktu, tenaga, dan kasih. Berani memberi juga bukan karena ada paksaan atau keinginan untuk menerima berkat berlipat kali ganda, melainkan karena panggilan untuk bertindak dengan kemurahan hati serta iman pada pemeliharaan Tuhan. Percayalah, ketika kita memberi, hidup kita akan jauh lebih berpengaruh dan kita tidak akan pernah berkekurangan. [IR]