Kita sadar bahwa kehidupan berkeluarga tidaklah semudah dan seindah di media sosial. Kenyataannya, di dunia ini tidak ada rumah tangga yang bebas konflik. Masing-masing kita berjuang melawan hawa nafsu. Kita tidak mungkin memiliki pola pikir yang selalu seragam, bahkan persoalan sesederhana selera makan saja, terkadang dapat menimbulkan perdebatan di dalam rumah. Kabar baiknya, kita tidak perlu berkecil hati jika situasi rumah kita tidak selalu baik-baik saja. Kita dapat belajar dari kondisi rumah Abram yang tampaknya beberapa kali mengalami ketegangan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, perselisihan yang terjadi di rumahnya secara spesifik terjadi karena ia dan Sarai mengikuti kebiasaan atau budaya mengenai keluarga, daripada janji Tuhan atas mereka.
Budaya pada zaman itu menekankan untuk memiliki anak, terutama anak laki-laki. Anak lelaki menjamin nama keluarga terus berlanjut, dan menjadi tanda bahwa keluarga diberkati. Sebaliknya, tidak memiliki anak merupakan aib. Stigma ini sangat kuat, sehingga jika seorang istri tidak dapat memiliki anak, adat mendorong mereka untuk memberikan salah satu pembantunya kepada suaminya, dan anak dari ikatan tersebut akan dianggap sebagai anak sang istri. Dalam konteks kebudayaan demikianlah, Sarai memberi tahu rencananya. Ia bahkan membenarkan hal ini sebagai cara untuk memenuhi janji Tuhan (ayat 2). Kita tahu bahwa pada akhirnya karena rencana ini, terjadi konflik yang lebih besar lagi dalam keluarga mereka. Seperti ikan yang tidak menyadari dirinya basah, kita semua cenderung tenggelam dalam budaya sehingga kita tidak menyadari betapa besar pengaruhnya terhadap kita. Karena itu, pahamilah bahwa di dalam setiap budaya yang ada, terdapat unsur-unsur yang mendukung kehidupan berkeluarga, namun ada pula yang merugikan dan dapat memicu konflik. Sebagai orang percaya, kita harus menilai setiap budaya menggunakan sudut pandang yang alkitabiah, sehingga kita dapat menghindari kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan rencana Tuhan bagi keluarga. Jadilah seorang ayah, ibu, dan anak-anak yang menguji setiap budaya melalui firman Tuhan. Setiap anggota keluarga harus mengutamakan ketaatan pada firman Tuhan di atas kebudayaan yang ada. [LS]