Penemu dinamit, Alfred Nobel, berkata bahwa rasa puas diri adalah kekayaan yang sejati. Rasa puas diri merupakan harta berharga yang sering dilupakan orang. Seseorang yang bersedia mengupayakan rasa puas diri, sebenarnya telah membuat keputusan yang paling bijak dan membahagiakan. Sebab rasa puas diri ini adalah prinsip alkitabiah yang diajarkan oleh firman Tuhan. "sebab saya telah belajar tetap bersukacita, baik saya memiliki banyak maupun sedikit", demikian kata Rasul Paulus (Filipi 4:11 FAYH). Dari sini kita memahami bahwa rasa puas diri bukanlah hal instan yang muncul begitu saja. Kata "belajar" di sini memberi pemahaman kepada kita tentang sesuatu yang harus diupayakan dan ditumbuhkembangkan, dan kita tahu, Paulus yang mengatakan hal ini tidak menjalani kehidupan yang mudah. Pada kenyataannya, ia pernah menjalani kehidupan yang berkekurangan, namun ia juga tahu apa itu kelimpahan. Hanya saja Paulus terus mengupayakan rasa puas dirinya di dalam Tuhan, di dalam pengiringannya mengikut Yesus. Demikian seharusnya berlaku bagi kita, rasa puas diri ini merupakan kasih karunia yang terus menerus harus kita pelajari di dalam menjalani hidup ini.
Mungkin kita bertanya, bagaimana cara untuk menumbuhkan rasa puas diri. Kuncinya ada dalam pesan yang disampaikan oleh Paulus di ayat sebelumnya. Yaitu kita harus berfokus pada hal-hal yang positif. Kita harus memikirkan semua hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Bahkan di balik hal-hal yang kurang baik, selalu ada hal-hal baik yang bisa kita pikirkan tentang diri kita, keluarga kita, tentang gereja, pekerjaan, dan lingkungan kita. Ingatlah akan hal-hal ini, terlebih saat kita ingin mengeluh. Kita harus fokus pada hal-hal ini dan berhenti membandingkannya dengan orang lain. Karena pada saat kita membandingkan dengan orang lain, kita hanya akan merasa kurang dan kehilangan kepuasan. Karenanya, beri perhatian lebih pada sukacita ketimbang duka, keberhasilan ketimbang kegagalan, keuntungan ketimbang kerugian yang pernah dialami. Pikirkan, perkatakan, dan sebutkan hal-hal ini di dalam doa kita. Dengan melakukan semua ini, niscaya kita akan bertumbuh di dalam kepuasan diri. [RS]