Saat seorang Kristen dipanggil untuk bersaksi di pengadilan, mereka akan diminta untuk mengucapkan, "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan menerangkan dengan sebenarnya dan tiada lain dari pada yang sebenarnya, semoga Tuhan menolong saya." Terlepas dari sumpah itu, sebenarnya tidak satu pun dari kita yang tahu apakah orang tersebut memberi kesaksian jujur atau bohong. Perjanjian Lama juga memberikan referensi terkait pengambilan sumpah (Ul. 6:13), yang sering ditanggapi secara gegabah oleh orang Israel, tidak sedikit dari mereka yang mengucap sumpah secara sembrono. Karena masalah ini, dalam bacaan Alkitab kita, Yesus perintahkan suatu prinsip: Janganlah sekali-kali bersumpah, demi apa pun juga.
Kita pun sadar telah terjadi krisis kebenaran dalam budaya kita. Dengan berbagai cara, orang akan berkata-kata untuk meyakinkan audiens. Sekarang sudah bukan salah atau benar, jujur atau bohong. Sekarang kita mengenal dan mulai terbiasa dengan istilah "sugarcoating", yaitu tindakan, ucapan, bahkan janji, yang disampaikan dengan manis dan menarik, lebih daripada yang sebenarnya, untuk membuat sesuatu terdengar lebih baik dari kenyataannya, atau bahkan untuk menutupi dan mengurangi kebenaran. Karena itu, perhatikanlah perintah Yesus, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." Sebagai orang yang beriman pada Kristus, yang kita pegang adalah prinsip kebenaran firman Tuhan, dan Alkitab adalah mutlak. Ketika kita mulai mencampuradukkan kebenaran firman dengan sudut pandang kita yang egois, integritas kita perlahan terkikis. Apa yang sebelumnya kita anggap dosa, kemudian kita anggap relatif, dan akhirnya kita terima. Oleh karena itu, kita harus memegang teguh firman Tuhan, berupaya dalam kata-kata yang jujur dan tidak manipulatif. Dunia ini penuh dengan tipu muslihat, kita harus mempraktikkan kebenaran yang radikal sebagaimana firman Tuhan yang kita pegang adalah kebenaran yang mutlak. [LS]