Paulus sangatlah menyadari bahwa statusnya sebagai pekerja di ladangnya Tuhan, semata-mata didasarkan pada kasih karunia Allah yang tidak layak ia terima. Kita pun perlu menyadari bahwa menjadi rekan sekerja Allah merupakan hal yang mulia. Bukan karena ada sesuatu dalam diri kita, atau karena kuat gagah kita, melainkan karena kasih karunia Allah. Kemudian Paulus mengatakan bahwa karena anugerah Allah, ia menjadi seorang ahli bangunan yang cakap untuk meletakkan pondasi dari bangunan Allah (gereja). Pondasi yang dimaksud adalah Pribadi Yesus Kristus sendiri beserta pekerjaan-Nya, dan orang lain akan terus membangun di atas pondasi tersebut. Garis bawahi pesan Paulus selanjutnya, yaitu tiap-tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia membangun di atasnya.
Kita memiliki pilihan bahan bangunan yang bisa kita pakai. Entahkah kita membangun dengan emas, perak, dan batu permata, atau dengan kayu, rumput kering mau pun jerami. Saat ini, tidak seorang pun tahu dan dapat melihat kita menggunakan jenis bahan bangunan apa. Tapi jangan lupa, setiap manusia telah ditentukan untuk mati satu kali dan sesudah itu akan dihakimi. Satu hal yang tidak bisa kita abaikan tentang penghakiman adalah kenyataan bahwa pekerjaan setiap orang akan diuji melalui api, dan saat itulah akan terlihat kualitas pekerjaan yang kita lakukan sebagai rekan sekerja Allah (2 Kor. 5:10). Api membakar bahan-bahan yang tidak layak seperti kayu, rumput, dan jerami. Tapi emas, perak, dan batu permata tidak mudah terbakar. Inilah saat pertanggungjawaban kita, dimana pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Kata "nampak" disini berasal dari kata "phaneros", yang berarti "dikenali/diketahui dengan jelas". Maka manifestasi dari pelayanan orang percaya juga termasuk motif, sikap hati, dan juga tujuannya. Yang mengerikan adalah jika seseorang mengira dirinya telah melayani dan terlibat di setiap pekerjaan Tuhan, namun melakukannya dengan cara yang tidak layak dan tujuan yang egois, maka hari Tuhan akan menyatakannya, api akan membakar pekerjaan yang dibangun dari materi yang tidak layak. Maka dari itu, setiap kita harus memperhatikan "bahan-bahan" yang kita pakai di setiap pekerjaan Tuhan. Pengorbanan di dalam pelayanan kita tidak pernah sia-sia. Setiap pekerja, yang telah membangun di atas dasar itu dengan menggunakan bahan-bahan yang benar, dan yang pekerjaannya tetap utuh, akan menerima upahnya. [LS]