Banyak orang merasa menyesal dalam hidup karena apa yang belum sempat mereka lakukan. Ini terjadi karena seseorang selalu merasa masih memiliki banyak waktu. Tanpa disadari, waktu yang mereka miliki telah habis. Satu musim berlalu, berganti musim yang baru. Kapan pun dan dengan cara apa pun, Tuhan bisa saja memanggil kita pulang. Maka yang harus direnungkan adalah bagaimana kita menggunakan waktu yang kita miliki saat ini.
Saat melihat dari perspektif kitab Yakobus, kita diingatkan untuk tidak melupakan tujuan hidup kita sebagai orang percaya. Karena masih hidup dalam daging, manusia cenderung menyimpang dari perintah Tuhan dan terjebak dalam fokus yang egois. Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi di kalangan orang Kristen adalah anggapan bahwa untuk menjadi berkat, seseorang harus menunggu hingga memiliki kekayaan materi. Akibatnya, kesempatan untuk menjadi berkat terus ditunda, dan akhirnya tidak pernah terlaksana. Padahal, setiap anak Tuhan dipanggil untuk menjadi berkat dalam setiap musim hidupnya. Menjadi berkat tidak selalu berkaitan dengan hal-hal materi, sering kali itu tentang bagaimana kita bisa menjadi dampak melalui perkataan, kasih, dan perhatian kita kepada sesama. Kita dapat menguatkan orang lain melalui kesaksian pribadi tentang perjalanan iman kita bersama Tuhan, menemani mereka yang sedang berduka, mendoakan mereka yang berada dalam kesulitan, atau bahkan sekadar hadir dan mendengarkan orang-orang yang membutuhkan teman bicara. Selama kita masih diberi kesempatan, apa pun yang kita miliki saat ini dapat kita gunakan untuk memberkati orang lain. Di musim yang lain, cara kita menjadi berkat mungkin akan berbeda, sesuai dengan keadaan dan kapasitas yang kita miliki. Yang terpenting adalah kesediaan kita untuk selalu mencari kesempatan dan berusaha memberkati orang lain dengan apa yang ada pada kita. Dengan demikian, ketika tiba saatnya Tuhan memanggil kita pulang, kita dapat melihat kembali hidup kita tanpa penyesalan. Sebab kita telah menggunakan setiap kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menjalankan kehendak-Nya, yaitu bekerja memberi buah. Hidup yang dipergunakan untuk melayani dan mengasihi sesama akan menjadi hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, thatâs our way of life. [KH]