Kepasifan dalam kehidupan rohani bagaikan memiliki agama tanpa realitas. Kita dapat melihat bagaimana seorang imam yang bernama Eli bersikap toleran terhadap dosa pribadi dan keluarganya. Kita melihat sikapnya yang lunak atas dosa zina yang dilakukan anak-anaknya, dan juga praktik korupsi yang dilakukannya bersama anak-anaknya. Imam Eli tahu siapa Tuhan, tapi Tuhan justru menjatuhkan hukuman atas dirinya beserta keturunannya (1 Sam. 2:27-36; 3:14). Inilah bahayanya kepasifan dalam kehidupan rohani kita.
Kita pun harus paham bahwa tidak selamanya diam itu emas. Karena jika seseorang tahu apa yang baik dan benar yang harus dilakukan, namun tidak melakukannya, orang itu telah berdosa. Memang jauh lebih mudah berbicara daripada melakukan, lebih mudah membaca mengenai kesabaran dan kerendahan hati, daripada menjalaninya. Karena itu, Yakobus mengajarkan bahwa karena kita mengetahui firman Tuhan, maka kita bertanggung jawab untuk melakukannya. Ini peringatan serius bagi kita selaku murid Yesus, kita harus berhati-hati saat kita tidak melakukan kebaikan dan kebenaran yang kita ketahui, sebab kepasifan seperti ini akan menunjukkan kepada dunia bahwa sebenarnya kita sendiri tidak menghargai nilai-nilai kebenaran tersebut. Selain itu, Yesus juga menekankan hal kewaspadaan melalui perumpamaan pengurus rumah yang setia dan bijaksana. Ia katakan bahwa hamba yang tahu akan kehendak tuannya namun tidak mengadakan persiapan dan tidak melakukan kehendak tuannya, akan menerima lebih banyak pukulan daripada yang tidak tahu. Tidak perlu sombong jika kita tahu banyak soal firman, sebab yang jauh lebih penting adalah menjadi pelaku firman. Jangan acuh tak acuh, apalagi mengabaikan apa yang kita ketahui baik dan benar, itu menjadi sebuah tanggung jawab yang harus kita lakukan. [LS]