Sudut pandang dunia mengenai ketundukan berbanding terbalik dengan sudut pandang yang alkitabiah. Dunia ini selalu mendorong kita untuk mengedepankan ego, kepentingan, dan hak-hak pribadi. Sedangkan firman Tuhan memerintahkan kita untuk merendahkan diri seorang kepada yang lain dalam takut akan Kristus. Perintah "rendahkanlah dirimu" dalam bahasa aslinya "hupotasso" yang berarti pula "tunduk". Sekarang jika kita mengakui firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi dalam kehidupan kita, maka terimalah perintah ini dengan hati terbuka.
Tanpa mengesampingkan konsep otoritas secara hierarkis yang telah Tuhan tetapkan dalam berbagai bidang, kita semua âtermasuk para pemegang otoritas, perlu menunjukkan sikap saling tunduk terhadap mereka yang berada di bawah otoritas dengan cara melayani dengan kasih. Yesus berkuasa atas para murid, tapi Ia mengesampingkan hak-hak-Nya dan membasuh kaki mereka. Pesan Yesus sangat jelas, kita dilarang mengikuti cara dunia, dimana orang-orang memerintah dengan tangan besi, menjalankan kuasanya dengan keras dan tekanan. Jadi, di dalam kehidupan kita sehari-hari, seorang suami bukan artinya melepas wewenang atas istrinya, melainkan menanggalkan semua sifat yang egois dan otoriter, mengasuh dan merawat, sama seperti Kristus terhadap jemaat (Efesus 5:25-29). Ketika suami membantu memikul beban istri, itu berarti ketundukan satu sama lain. Ketika seorang ayah mengorbankan dirinya demi anak-anak, disanalah terdapat ketundukan. Seorang atasan juga perlu mengembangkan komunikasi yang asertif terhadap pekerjanya. Komunikasi asertif adalah gaya komunikasi yang menunjukkan ketegasan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan tanpa merendahkan atau mengintimidasi orang lain, melainkan dengan tetap menjaga dan menghargai hak serta perasaan mereka. Itulah yang Rasul Paulus maksud dengan perintah "rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus." Ketika kita membantu satu sama lain, ketika kita berbicara dengan tetap menjaga rasa hormat kepada lawan bicara, itulah ketundukan yang "saling", ketundukan di dalam takut akan Kristus. Hari ini mari kita praktikkan satu tindakan ketundukan satu sama lain kepada pasangan kita, kepada anak kita, kepada pekerja kita, dan kepada orang-orang di bawah otoritas kita lainnya. [LS]