Di akhir kitab Pengkhotbah, Salomo menutup dengan satu pesan bahwa Allah akan membawa semua perbuatan kita ke pengadilan. Inilah yang disebut pengadilan Kristus, di mana Kristus sebagai Hakimnya pada saat Ia datang kembali. Seperti kata Rasul Paulus bahwa kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya memperoleh apa yang patut diterima, sesuai dengan yang kita lakukan dalam hidup ini, baik atau pun jahat. Kata "menghadap" ini menjelaskan bagaimana Tuhan akan menyingkapkan semua perbuatan kita secara terbuka, entah itu perbuatan yang tersembunyi, watak, sikap, perkataan, motivasi, kekurangan kasih kita, termasuk perbuatan baik, serta pekerjaan dan pelayanan kita. Dalam pengadilan kita sebagai orang percaya, hal yang tidak termasuk di dalamnya ialah hukuman, melainkan ganjaran, sebagai bentuk keadilan dan penilaian Tuhan bagi kita. Ganjaran itu akan menentukan kemungkinan kehilangan, kerugian, adanya rasa malu, dan hasil pekerjaan yang akan nampak, di mana kita bisa saja memperoleh atau malah kehilangan pujian ilahi, tugas dan kekuasaan, kedudukan, pahala, dan juga hormat.
Kenyataan akan adanya pengadilan Kristus ini bukan untuk menakut-nakuti kita. Melainkan untuk menyatakan bukti keadilan Tuhan bahwa Ia peduli terhadap bagaimana kita hidup dan apa saja yang kita lakukan. Tentunya ini mendorong kita untuk semakin bertekun dalam kesalehan, hidup kudus dalam rasa takut akan Tuhan, hidup dalam kemurnian dan penguasaan diri, berjaga dan berdoa, menunjukkan kemurahan, lebih sabar dan tidak main hakim sendiri apalagi membalas dendam, dan semakin kuat menahan segala derita. Hal-hal inilah yang meneguhkan hati kita bahwa setiap perjuangan, perbuatan baik dan kasih kita akan diingat Tuhan. Kelak, saat bertemu langsung dengan Tuhan, kita bisa saja terharu ketika Tuhan berkata, "Terima kasih kamu tidak membalas saat disakiti dan difitnah, terima kasih sudah datang saat aku sakit dan dipenjara, terima kasih mengunjungiku saat kesepian, terima kasih memberiku uang saat aku membutuhkan, terima kasih telah memperhatikanku saat yang lainnya abai," dan masih banyak "terima kasih" lainnya (Matius 25:35-40). [RS]