Scarcity mindset (pola pikir kekurangan) merupakan pola pikir seseorang yang selalu berfokus pada apa yang tidak ia miliki, bahkan ketika ia sudah memilikinya pun, ia masih merasa kurang. Ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang mengadopsi scarcity mindset. Beberapa diantaranya adalah trauma finansial, ekspektasi berlebihan, rasa kurang percaya diri, dan semacamnya. Seseorang dengan scarcity mindset dapat dikenali melalui pola perilaku seperti kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan (hoarding), sering mengecilkan pencapaian, dan didominasi oleh banyak sekali rasa takut, seperti rasa takut tersaingi, takut berbagi ilmu, takut kehabisan, dan lain sebagainya.
Menjadi pengikut Kristus tidak serta merta membuat kita kebal dari scarcity mindset. Beberapa di antara kita bisa saja memiliki kebiasaan hoarding/menimbun dan tidak pernah merasa cukup. Seseorang dengan scarcity mindset akan selalu merasa cemas ketika harus membuang barang, yang bahkan sudah tidak pernah dipakainya. Jika Anda merasa memiliki pola pikir seperti ini, kabar baiknya adalah kita bisa berubah. Sebab Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu. Tenanglah dalam iman, biasakan diri untuk mengucap syukur, katakan dalam hati "cukup", "saya tidak memerlukan terlalu banyak", "saya bisa memberikannya kepada orang lain". Teladani sikap Agur yang berdoa kepada Tuhan agar ia diberi apa yang cukup untuk menjadi bagiannya. Scarcity mindset bukanlah sesuatu yang tiba-tiba diadopsi oleh seseorang, namun pola pikir seperti ini juga bukanlah vonis seumur hidup. Bersama Tuhan, kita semua bisa terbebas dari scarcity mindset, dan menuju pada enoughness mindset (pola pikir berkecukupan). [EV]