Ketika Tuhan meminta Ishak untuk dipersembahkan, Alkitab tidak mencatat adanya penolakan dari Abraham. Sebaliknya Tuhan meminta yang paling Abraham kasihi dalam hidupnya. Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (Kejadian 22:2).
Perjalanan menuju Gunung Moria yang menempuh kira-kira 80-100 kilometer, membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Ini bisa menjadi perjalanan memilukan bagi Abraham. Ia bisa saja kompromi dan berbalik arah. Tetapi dengan keteguhan hati, Abraham melakukan apa yang Tuhan minta, karena ia percaya bahwa Tuhan selalu tahu yang terbaik baginya. Inilah keyakinan Abraham akan kedaulatan Tuhan dalam hidupnya. Setiap kita tentu memiliki sesuatu yang paling kita kasihi. Tak peduli seberapa berharganya itu bagi kita, setiap kita harus menyadari bahwa sewaktu-waktu Tuhan bisa saja memintanya dan berkata, "Berikanlah itu kepada-Ku!" Di sinilah kita harus menyadari bahwa setiap kita harus mengakui kedaulatan Tuhan. Karena memang Tuhan yang empunya kehidupan dan segala sesuatu di dalamnya. Karenanya, kita harus siap jika hal-hal yang paling kita kasihi diambil dari kita. Hal apakah yang menjadi "sesuatu yang paling kita kasihi" dalam hidup ini? Pikirkanlah apa yang kita anggap sangat berharga, di mana kita memberikan banyak waktu, tenaga, dan juga uang kita di situ. Akankah suatu hari kita bisa melepas semuanya saat Tuhan memintanya dari kita? Karena itu, jangan membangun hidup kita di atas kepemilikan yang sewaktu-waktu dapat lenyap, melainkan di atas fondasi yang kokoh yaitu di dalam Tuhan. Maka, sekali pun segala sesuatu yang kita miliki diambil, kita tetap akan memiliki Tuhan sebagai satu-satunya yang paling kita butuhkan. Jika kita ingin mengakui kedaulatan Tuhan, taruh segala hal yang paling kita sukai berada di tangan-Nya, dan sadarilah bahwa itu semua adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. [RS]