Para penikmat seni akan merasa kagum dengan lukisan-lukisan terkenal seperti Mona Lisa, The Last Supper, atau Girl with a Pearl Earring. Tapi pernahkah Anda memperhatikan bagaimana Tuhan "Sang Pelukis Agung" menciptakan kita? Daud bersaksi bahwa Tuhan menciptakan kita secara dahsyat dan ajaib. Tuhan mengetahui setiap bagian terkecil dari tubuh kita, tak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Bahkan sebelum kita mulai bernapas, Tuhan telah merencanakan setiap hari hidup kita. Masa depan kita sesungguhnya bukanlah misteri bagi Tuhan, Pencipta kita. Yang menjadi pertanyaannya sekarang, bagaimana kita dapat menyelaraskan impian kita dengan masa depan yang telah Tuhan rancangkan.
Selain menyadari bahwa kita ini buatan Allah (Efesus 2:10), Rasul Paulus juga mendorong kita untuk memahami bahwa sebagai orang yang telah diselamatkan, Tuhan masih membentuk serta menyempurnakan kita untuk suatu tujuan yang indah dan mulia, yaitu untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau kita hidup di dalamnya. Melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah berarti mencari tahu apa yang Ia siapkan dan inginkan untuk kita lakukan. Perlu diperhatikan bahwa beberapa orang tampak keliru dalam hal ini, sebab mereka mencoba melukis impian-impian mereka sendiri, sedangkan Tuhan hanya dijadikan penolong untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi tersebut. Yang benar adalah Tuhan merencanakan dan mengarahkan, sedangkan kita mengikuti-Nya. Pertama-tama ialah di dalam pekerjaan baik yang spesifik, yaitu karunia yang telah Tuhan beri. Setiap orang harus berusaha melayani Tuhan sesuai dengan karunianya. Selanjutnya adalah pekerjaan baik yang lebih umum, dimana melayani Tuhan harus menjadi kecenderungan hidup kita setiap hari. Saat bekerja, Anda melayani Tuhan. Saat bersama keluarga, Anda melayani Tuhan. Saat bersama teman, Anda melayani Tuhan. Intinya adalah, setelah kita diselamatkan, arah hidup kita harus ada di jalan ketaatan kepada Tuhan. Hari ini, baiklah kita menyadari bahwa Tuhan adalah "Sang Pelukis Agung" yang menentukan lukisan kehidupan kita. Ia membentuk kita menjadi mahakarya-Nya. Bagian kita adalah bekerja sama dengan-Nya, melukis masa depan kita sesuai dengan pekerjaan baik yang telah Ia persiapkan sebelumnya. [LS]