Musa tidak percaya diri dengan perintah Tuhan yang memintanya kembali ke Mesir dan membawa umat-Nya keluar dari sana (Keluaran 3 dan 4). Tuhan murka atas keberatan-keberatan Musa. Kenyataannya, Musa kurang berambisi untuk menjadi seorang nabi, dan secara tidak langsung kita menemukan fakta lain bahwa sejumlah orang yang Tuhan pilih untuk menduduki suatu posisi atau jabatan sangat sadar akan keterbatasannya sebagai manusia. Ada Daud (1 Samuel 18:18), Yeremia (Yeremia 1:6-7), dan juga Gideon (Hakim-hakim 6:15-16).
Karena itu, kita perlu memahami latar belakang Musa, yang membuatnya tidak percaya diri untuk menjadi seorang pemimpin, sekaligus bagaimana cara Tuhan bekerja dalam hidupnya hingga ia menjadi pemimpin besar. Semua dimulai ketika Musa dikeluarkan dari air oleh puteri Firaun (Keluaran 2:10). Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan serta perbuatannya (Kis. 7:22). Musa menjadi lambang pencapaian dan keterampilan manusia karena didikan yang diterimanya sebagai "putera" puteri Firaun. Bayangkan, Musa yang kuat, berpendidikan, memiliki koneksi keluarga yang mantap, orang seperti inilah yang berusaha menolong bangsanya dengan kekuatannya sendiri. Sayang sekali, upayanya gagal dan menyedihkan. Musa membunuh orang Mesir, ia juga tidak dihormati orang Isarel yang ingin ia selamatkan. Saat Firaun mendengar apa yang dilakukan Musa, ia harus melarikan diri ke padang gurun dan menggembalakan domba selama 40 tahun. Setelah selama itu, Allah menampakan diri kepada Musa dengan perintah yang telah kita ketahui sebelumnya. Upaya pertama Musa untuk menolong bangsanya adalah mimpi buruk, dan jangan lupa dia ini pelarian karena membunuh. Di satu sisi, inilah kondisi yang Tuhan kehendaki, Musa sadar akan kelemahannya dan realita bahwa tugas ini mustahil dilakukan dengan kekuatan manusia. Dengan begitu jika bangsa Israel diselamatkan, hal itu hanya mungkin oleh karena kuasa Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya. Setelah Musa "dihancurkan" sedemikian rupa, setelah ia tahu keterbatasannya, Tuhan mengutus Musa untuk berdiri di hadapan Firaun. Tuhan mempersiapkan kita melalui proses peremukan, agar kita menanggalkan segala ego, hak, dan kepentingan pribadi kita. Relakanlah hati kita, biarlah rasa sakit yang kita alami mengajar kita untuk rendah hati. Bila sudah tiba waktu-Nya, maka Tuhan sendiri yang akan meninggikan kita, sebab barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. [LS]