Doom spending adalah bentuk perilaku seseorang yang susah dikontrol dalam menggunakan sumber daya materi, yaitu uang, dengan cara membeli barang dan jasa yang sebenarnya tidak didasari kebutuhan melainkan dorongan emosional. Salah satunya ialah "sense of accomplishment", yaitu rasa bangga dan puas karena bisa memiliki barang atau menggunakan jasa tertentu. Bila hal ini dilakukan berulang-ulang, yang terdampak bukan hanya kondisi finansial namun juga psikologis. Penulis Amsal katakan, mereka yang memboroskan sumber daya mereka adalah orang bebal.
Kita harus sadar, Tuhan mempercayakan kita berkat dalam bentuk uang dan harta, untuk dikelola secara bijaksana, dan untuk memuliakan-Nya. Karena itu, motivasi kita seharusnya bukan untuk memenuhi "sense of accomplishment", apalagi untuk membuat orang lain terkesan. Tolok ukurnya ialah kebutuhan, sambil terus mengingat bahwa semuanya adalah pemberian Tuhan. Kita bertanggung jawab atas sumber daya yang Ia percayakan. Karena itu, untuk menghindari perilaku "doom spending", kita perlu waspada dalam menilai dan memutuskan kebutuhan kita. Paulus katakan, makanan dan pakaian seharusnya sudah cukup, sebab kita datang ke dunia ini tanpa membawa apa pun, juga saat kita mati nanti, kita pun tidak dapat membawa apa-apa. Semoga ayat ini terpatri dalam batin kita. Selanjutnya, selain waspada dalam menilai kebutuhan, kita juga harus waspada dengan media di sekeliling kita, sebab "doom spending" juga sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lihat dari media sosial. Setiap konten atau iklan yang kita lihat, dibuat dan dikemas secara meyakinkan dan menarik. Jadi tugas kita adalah menyeleksi apa yang kita lihat, mempertimbangkan sebelum benar-benar membelinya. [MLS]