Kemenangan Daud atas Goliat adalah peristiwa luar biasa, yang menunjukkan bagaimana Tuhan menggunakan orang-orang yang diremehkan, yang tak disangka-sangka, bahkan yang disalahpahami oleh lingkungan sekitarnya. Sebelum kemenangan Daud, kita melihat ia disalahpahami oleh kakaknya, Eliab.
Kita akan memahami makna perkataan Eliab kepada Daud dalam bacaan Alkitab hari ini, sambil melihat latar belakang yang terjadi pada pasal 16. Eliab adalah putra tertua dari delapan putra Isai, sedangkan Daud adalah yang termuda. Eliab tinggi gagah dan elok rupanya, hingga Samuel berpikir Eliab-lah yang akan diurapi Tuhan menjadi raja. Tapi Eliab ditolak, karena Tuhan tidak memilih raja berdasarkan penampilan luar, melainkan hati yang selaras dengan hati Tuhan. Alkitab menuliskan bahwa Daud diurapi di hadapan semua kakaknya (1 Sam 16:13), artinya Eliab pun melihat pengurapan Daud. Kembali pada pasal 17, saat dimana Eliab mendengar pertanyaan Daud kepada orang-orang Israel yang berada di dekatnya mengenai hadiah yang ditawarkan Saul bagi orang yang bisa mengalahkan Goliat. Disitulah amarah Eliab bangkit. Ia menghakimi Daud dengan semua penilaian yang salah. Ia menuduh Daud meninggalkan tanggungjawabnya menggembalakan domba, ia bahkan menghina dan menyepelekan tugas Daud melalui ucapannya, "pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun". Eliab juga menuduh Daud datang dengan maksud jahat, yaitu menonton pertempuran. Padahal Daud datang mentaati perintah ayahnya, ia pun mencarikan penjaga bagi kambing dombanya. Disinilah kita melihat bagaimana respons Daud. Ia tidak membela diri secara agresif, meski penilaian yang ia terima jelas-jelas salah dan menyakitkan. Katanya, "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!" Daud juga segera mengalihkan fokusnya, dikatakan: "lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain". Ia tidak ambil pusing atas penilaian yang salah dari Eliab, ia kembali menanyakan soal Goliat–yang memang adalah persoalan sekaligus misi yang lebih besar. Dari sini, kita memahami bahwa keberanian Daud berasal dari kepercayaannya kepada Tuhan, bukan pendapat saudaranya. Seperti kata penulis Amsal, "But the righteous are bold as a lion." (Ams 28:1b). Orang benar memiliki keberanian seperti singa. Meskipun banyak orang yang menyerang mereka, Tuhan menjamin orang benar. Mari teladani Daud, sekali pun disalahpahami, jangan sampai terguncang apalagi menyerah. Landaskan identitas dan misi kita pada panggilan Tuhan, teruslah bergerak maju, dan biarkan tindakan Anda menjawab segala kesalahpahaman orang lain. Sebab Tuhan-lah yang akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. [LS]