Panggilan Tuhan secara khusus dalam hidup kita terkadang tidak langsung terlihat secara jelas. Contohnya Abram. Berawal dari sang ayah, Terah, yang mengajaknya untuk meninggalkan Ur Kasdim menuju Kanaan. Ia membawa serta Abram, Lot–cucunya, dan Sarai–menantunya. Namun saat tiba di Haran, Terah malah memilih untuk menetap di sana sampai akhir hidupnya. Memang kita tak bisa menampik adanya penghalang yang membuat Terah untuk memutuskan berhenti di Haran. Mungkin karena faktor kesehatan, atau mungkin juga karena ketidaksiapan seperti rasa ragu. Namun, semua hambatan itu tidak mengubah panggilan Abram. Barulah setelah ayahnya meninggal, Abram pergi ke Kanaan sesuai dengan perintah Tuhan, "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." (Kejadian 12:1).
Kehendak Tuhan dalam hidup kita juga bisa dinyatakan secara bertahap. Sama seperti waktu di Haran, yang adalah masa "penantian" atau "penundaan" bagi Abram. Tuhan bisa saja mengizinkan waktu-waktu demikian untuk melatih kebergantungan dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Jika kita dengan sabar melakukan setiap kehendak Tuhan selama masa penantian itu, maka di situlah kita akan lebih siap untuk melayani Tuhan sesuai dengan panggilan-Nya dalam hidup kita. Dalam kehidupan Anda, adakah suatu "panggilan" yang belum nampak jelas? Ingatlah bahwa kita tidak harus selalu memaksakan untuk sesegera mungkin mencapainya. Kita bisa saja mengalami penundaan dan melihat berbagai ekspektasi kita seakan "tenggelam". Kita bisa saja diharuskan untuk membiarkan segala sesuatunya berjalan apa adanya dan menjadikannya sebagai penyerahan total kepada Tuhan. Waktu yang kita targetkan mungkin sudah habis, namun "timeline" Tuhan berbeda, tujuan dan rencana-Nya dalam hidup kita tak akan pernah berakhir, asal kita tetap setia pada jalan-jalan yang Tuhan tetapkan. [RS]