Pada zaman Musa, Allah telah membebaskan bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dengan mendatangkan penghukuman bagi Mesir melalui sepuluh tulah hingga kematian anak sulung di tanah Mesir, karena raja Firaun menolak permintaan Allah untuk melepaskan bangsa Israel beribadah kepada-Nya. Selanjutnya, Allah mengikatkan diri-Nya kepada bangsa Israel dengan perjanjian di gunung Sinai, di mana bangsa Israel menjadi umat-Nya dan TUHAN menjadi Allah mereka sampai selama-lamanya, dengan memberikan Hukum Taurat-Nya supaya bangsa Israel hidup kudus dan berkenan sesuai dengan aturan dan standar Allah, juga dengan memberikan tanah perjanjian yaitu Kanaan menjadi tanah pusaka bagi mereka untuk beribadah kepada Allah.
Setelah Musa wafat, Yosua melanjutkan perjuangan bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, dan sama seperti TUHAN menyertai Musa, demikianlah disertai-Nya Yosua dalam menaklukkan bangsa-bangsa penghuni Kanaan, sampai TUHAN mengarunikan keamanan kepada orang Israel di seluruh daerah itu (Yos 23:1). Yosua sangat menyadari bahwa TUHAN saja-lah yang berperang bagi bangsa Israel dan ia meyakini bahwa tujuan dari tanah perjanjian diberikan ialah supaya bangsa Israel beribadah kepada TUHAN Allah Israel di sana. Sehingga melalui hidup mereka, bangsa-bangsa lain akan beroleh berkat. Oleh karena itu Yosua menantang kembali komitmen bangsa Israel, khususnya generasi yang TUHAN ijinkan masuk dan menduduki tanah perjanjian untuk beribadah hanya kepada TUHAN Allah Israel, sebab mereka adalah umat yang kudus, bangsa pilihan Allah di antara bangsa-bangsa yang menyembah berhala (Yos 24:14-15). Dari perjalanan bangsa Israel, kita dapat melihat bahwa kasih karunia Allah atas umat-Nya haruslah diresponi dengan komitmen sungguh-sungguh beribadah kepada Allah dengan tulus dan setia, dan tidak mencondongkan hati kepada allah-allah asing, maka Allah setia menjamin masa depan umat-Nya. Demikian juga dengan kita umat Tuhan masa kini, bukankah kepada kita telah dianugerahkan kesalamatan melalui kasih karunia-Nya di dalam Yesus Kristus Tuhan kita? Oleh karena itu marilah kita meresponi-Nya melalui iman kita dengan mempersembahkan hidup kita yang kudus dan berkenan sebagai ibadah yang sejati kepada-Nya (Rm 21:1). [AP]