Secara manusiawi, kita akan mencari tahu "apa", "mengapa", dan "bagaimana", sebelum kita benar-benar melakukan suatu hal. Itu karena kita menginginkan kontrol sebelum komitmen; kita menghindari biaya dan ketidaknyamanan; kita menghitung dan menganalisis; dan kita takut akan ketidakmampuan. Namun, Firman Tuhan justru memperlihatkan bahwa dalam banyak kisah, Tuhan memanggil seseorang untuk terlebih dulu taat melakukan panggilan-Nyaâbahkan sebelum arah dan tujuan dijelaskan. Inilah makna terdalam dari kata Ibrani "Hineni", yaitu kehadiran, perhatian, dan kesiapsediaan untuk berkata "ini aku, Tuhan", sekali pun segala sesuatunya belum terlihat jelas, tidak nyaman, dan berisiko.
Orang-orang seperti Abraham dalam Kejadian 22:1, Samuel dalam 1 Samuel 3, dan Yesaya dalam Yesaya 6:8; masing-masing menunjukkan kepada kita bagaimana mereka menjawab panggilan Tuhan untuk melakukan suatu tanggung jawab khusus. Abraham menjawab "hineni" saat mendengar suara Tuhan memanggilnya, bahkan sebelum perintah untuk mengorbankan Ishak. Samuel yang taat dan responsif, bangun di tengah tidurnya sampai empat kali, berlari kepada Eli, dan menjawab "hineni", sampai akhirnya ia tahu Tuhan-lah yang memanggilnya. Yesaya dengan tegas menjawab "hineni", saat ia memiliki hati yang rindu untuk menjadi jawaban atas panggilan Tuhan. Setiap momen ini bukan sekadar percakapan. Hineni menandai momen ketika orang-orang ini menyerahkan keinginan, rencana, dan masa depan mereka ke dalam tangan Tuhan. Inilah yang harus kita semua renungkanâkita yang sedang bergumul dengan panggilan Tuhan, mau pun kita yang sedang menjalani panggilan dan tanggung jawab tertentu. Hineni adalah respons iman. Hineni tidak bersyarat, hineni bukan "Inilah aku, jika itu masuk akal dan menguntungkan". Hineni adalah penyerahan diri. Hineni adalah sikap seorang murid yang lebih memercayai hati Sang Guru yang memanggil daripada kejelasan panggilannya. Hineni adalah sikap seorang hamba yang tunduk pada panggilan Tuannya tanpa perlu menerima penjelasan apa pun. Orang yang pintar dan kuat banyak, tapi gereja Tuhan memerlukan pelayan yang bisa berkata dengan jujur dan tulus, "Tuhan, aku siap." Maukah Anda menjadi pribadi yang berkata "hineni" kepada Tuhan? Sebab dalam Hineni, kita bukan hanya menyatakan kesiapan, tetapi juga menunjukkan iman, ketaatan, dan kasih yang sejati kepada Tuhan. Hari ini, katakan kepada Tuhan: "Hineni", dan lihatlah bagaimana Ia mengerjakan karya-Nya melalui hidupmu. [LS]