Panggilan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk penglihatan seperti kepada Nabi Yesaya, atau suara yang terdengar seperti kepada Nabi Samuel. Panggilan Tuhan bisa dimulai dari perasaan gelisah dan tidak nyaman dalam hati kita saat kita melihat atau mendengar suatu peristiwa. Ketidaknyamanan itu menyentuh dan mengganggu "saraf" spiritual dalam diri kita. Itulah yang disebut "holy discontent" atau ketidakpuasan yang kudus, dan inilah yang dialami Nehemia, pejabat tinggi yang menjadi juru minum raja di istana Persia.
Ketika mendengar umat Allah menderita dan tembok Yerusalem yang hancur, Nehemia menangis dan berkabung berhari-hari. Kabar itu menusuk hatinya, sehingga ia berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah, dan dalam kesedihan itulah Nehemia terpanggil dan mantap membangun kembali tembok Yerusalem. Dari kisah ini, kita melihat bahwa ketika Tuhan ingin memanggil kita dalam kapasitas tertentu, hal pertama yang Ia lakukan adalah membebani hati kita dengan situasi tertentu. Contoh, Anda mungkin sudah tahu lama tentang suatu kebutuhan di gereja Anda, namun ketika Anda mendengarnya secara detail dan melihat secara langsung, Anda tidak bisa melupakannya. Kemudian seperti yang dikatakan oleh penginjil Alan Redpath, bahwa menyadari adanya kebutuhan tidaklah cukup, keresahan itu harus diikuti dengan penantian yang sungguh-sungguh dan terus menerus di hadapan Tuhan, sampai rasa pedih akan kebutuhan itu berubah menjadi beban khusus dalam jiwa kita untuk satu tugas spesifik yang Tuhan ingin untuk kita kerjakan. Itulah yang dilakukan Nehemia dalam doa dan puasanya, hingga berbulan-bulan kemudian ia mendapat kesempatan di hadapan raja. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah panggilan Tuhan tidak selalu mulus dan berjalan lancar. Nehemia membutuhkan komitmen pada tugasnya di tengah-tengah banyaknya oposisi. Karena itu, hari ini tantang diri kita masing-masing untuk memperhatikan dimana kebutuhan umat Allah. Kita perlu menghadap Tuhan dan menyelaraskan prioritas kita dengan prioritas-Nya. Doakan dengan sungguh-sungguh, agar Tuhan menaruh satu beban khusus dalam hati kita, bila perlu berpuasalah agar Tuhan menunjukkan secara spesifik di mana dan dalam hal apa kita dapat mengerjakan sesuatu untuk Kerajaan Allah. [LS]