Apa yang ada dalam benak Abraham ketika Tuhan memerintahkannya untuk mengorbankan Ishak? Ishak adalah anak yang ia peroleh setelah perjuangan panjang dan penuh penantian. Selama bertahun-tahun, Abraham menantikan penggenapan janji Tuhan dalam hidupnya. Maka, kehadiran Ishak pasti menjadi harta yang paling berharga dan sumber sukacita terbesar dalam hidupnya. Namun, pada suatu hari, Tuhan memintanya dari Abraham. Sebagai manusia biasa, kita bisa bayangkan bagaimana kecamuk dalam hati Abraham dalam perjalanannya menuju Bukit Moria—tempat ia akan mempersembahkan Ishak.
Meski demikian, ketaatan Abraham menjadi teladan bagi kita semua. Sebab dalam hidup ini, kita tidak selalu mengerti alasan di balik perintah Tuhan. Kadang, kita harus mengambil keputusan yang tampak tidak masuk akal dan bertentangan dengan apa yang kita anggap baik dan benar. Iman Abraham bertumpu pada sesuatu yang tak kasat mata. Ia sangat mengenal pribadi Tuhan yang setia, yang selalu menyertainya dan menolongnya sepanjang perjalanan hidup. Tak hanya sekali, dua kali, bahkan kasih setia Tuhan terus menopang setiap langkah Abraham. Abraham tidak meragukan maksud Tuhan—ia percaya sepenuhnya pada kebaikan-Nya. Akhirnya, Abraham lulus dari ujian imannya yang terbesar: menyerahkan sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya sendiri, yaitu Ishak. Karena iman dan ketaatannya, Tuhan memberkati Abraham dan keturunannya dengan berkat yang kekal (Kejadian 22:17–18). Mungkin saat ini kita berada dalam situasi serupa—ketika Tuhan menguji kita untuk melepaskan sesuatu yang sangat kita cintai dan hargai. Memang tidak mudah, mungkin penuh air mata. Namun, Tuhan Yesus tidak pernah merencanakan kecelakaan dalam hidup kita. Setiap peristiwa yang diijinkan Tuhan, selalu mengandung tujuan ilahi, membuat iman kita semakin murni dan naik level. Letakkanlah pengharapanmu di dalam Tuhan. Percayalah kepada-Nya, dan teruslah melangkah dengan mata yang tertuju kepada-Nya. [KH]