Debut Musa menjadi pemimpin bangsa Israel dimulai dari satu langkah kecil yang penuh rasa ingin tahu. Ketika Musa melihat nyala api dalam semak duri namun tidak terbakar, ia memeriksanya. Rasa ingin tahu membawa Musa keluar dari rutinitas hariannya, dan ternyata di momen itulah Tuhan memanggilnya, "Musa, Musa." Peristiwa ini menandai titik balik kehidupan Musa. Padahal saat itu Musa sedang hidup dalam rutinitas sebagai gembala domba di Midian, yang jauh dari hiruk-pikuk Mesir yang dahulu sangat dikenalnya. Tetapi Allah memanggilnya keluar dari zona nyaman untuk suatu tujuan yang lebih besar.
Belajar dari panggilan Tuhan terhadap Musa, kita bisa memahami bahwa panggilan Tuhan mungkin terjadi di tempat-tempat yang tak terduga. Panggilan Tuhan mungkin terjadi di tengah rutinitas harian kita, dan panggilan Tuhan mungkin terasa sangat spektakuler dari apa yang dapat kita bayangkan. Namun kita juga memahami bahwa di dalam setiap panggilan, ada Tuhan yang menyertai, ada Tuhan yang memperlengkapi, dan ada Tuhan yang membuat berhasil. Tuhan rindu kita segera merespons panggilan-Nya, berani keluar dari zona nyaman, dari kesibukan harian dan rutinitas yang terasa aman, menuju kepada tujuan-Nya yang lebih besar. Ingat, yang terutama bukanlah kehebatan, kepintaran, atau kefasihan kita dalam berbicara, Tuhan memanggil orang yang mau belajar percaya kepada-Nya, yang rela untuk diproses oleh-Nya. Tuhan tidak menuntut kita untuk tahu segalanya terlebih dulu, Ia hanya menunggu satu jawaban dari kita, yaitu, "Hineni ⦠Ya Allah!" [RS]