Kata "Hineni" yang berarti "Aku di sini", merupakan sebuah pernyataan kerelaan dan kesiapan total terhadap suatu panggilan yang Tuhan beri. Dalam kisah Daud, meskipun kata "Hineni" tidak secara eksplisit disebutkan, namun semangatnya sangat nyata. Di kala semua orang tawar hati melihat Goliat, Daud tampil dengan keberanian yang lahir dari hati yang bersedia. Daud bukan dalam posisi sebagai prajurit yang terlatih, bukan juga seorang yang diandalkan oleh orang-orang sekitarnya, melainkan gembala muda yang membawa bekal untuk kakak-kakaknya. Namun ketika melihat tantangan yang dihadapi bangsanya, ia tidak lari. Ia tidak mencari alasan. Ia tidak menunjuk-nunjuk orang lain. Ia berkata: "Aku akan pergi melawan orang Filistin itu." Hatinya bersedia, bukan karena ia kuat, sok berani, atau ingin membuktikan diri; melainkan karena ia percaya bahwa Tuhan yang pernah menolongnya dari singa dan beruang, akan menolongnya lagi menghadapi musuh yang lebih besar.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa merespons panggilan Tuhan tidak selalu menuntut kesempurnaan atau kesiapan penuh. Sering kali, yang Tuhan cari bukanlah orang yang paling siap secara manusiawi, tetapi hati yang bersedia melangkah dalam iman. Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna, Dia mencari hati yang mau taat hari ini juga, tanpa menunda, tanpa banyak alasan. Hati yang berkata: "Hineni". Panggilan Tuhan sering datang melalui hal-hal biasa: tugas sederhana, kebutuhan seseorang, atau peluang yang tampaknya minim. Namun, respons kitalah yang menentukan apakah kita akan dipakai untuk hal-hal yang lebih besar. Hati yang bersedia adalah hati yang percaya kepada Tuhan lebih dari kepada diri kita sendiri. Hati yang tidak menunggu panggung besar untuk tampil, tetapi dari hal-hal kecil yang tidak terlihat. Hati yang memilih segera merespons, bukan yang bersembunyi atau lari. Hati seperti inilah yang Tuhan pakai untuk membawa perubahan besar. [IR]