Seseorang tidak perlu menjadi orang jahat untuk dapat bersikap kurang giat, kurang kontribusi, dan apatis. Meski tidak jahat, keberadaan orang-orang seperti ini akan menimbulkan stress, kebingungan, dan kekesalan bagi orang-orang di sekitarnya; serta kerusakan dalam suatu kelompok atau organisasi. Mereka tidak menentang tim, tetapi mereka juga tidak mendukung tim; kedua hal ini sama-sama merugikan. Akibatnya, ada orang lain yang harus menutup kekurangannya, produksi menurun, deadline molor, tensi orang-orang naik, dan semua ini bukan karena kejahatan aktif, melainkan ketiadaan kontribusi. Itu sebabnya kita mengenal istilah "negligent" (kelalaian/kealpaan), "passive liability" (kerugian bukan karena melakukan kesalahan, tetapi karena tidak melakukan kebenaran), atau "slothful disruptor" (mengganggu dengan cara tidak melakukan apapun).
Alkitab secara gamblang menyamakan orang yang "raphah" (B. Yunani), yaitu: malas, lalai, tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam pekerjaannya–dengan si perusak, yaitu orang yang aktif menghancurkan dalam kejahatannya. Itu karena kemalasan sama dengan bentuk pencurian, dimana ia hidup dari hasil kerja keras orang lain. Itu karena kemalasan sama dengan bentuk keegoisan, dimana ia hidup hanya untuk dirinya dan kenyamanannya sendiri. Itu juga karena kemalasan sama dengan pengabaian tanggung jawab, dimana ia tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, dan ini adalah dosa (Yak 4:17). Professor teologi Christopher Morgan mengatakan bahwa tidak ada makhluk hidup yang bisa menjadi penonton saja. Pilihannya hanya bekerja atau menyia-nyiakan. Jadi, tidak bekerja dengan baik sama dengan berkontribusi pada pemborosan. Ingat, Tuhan memanggil kita bukan untuk sekadar hadir atau "setor wajah". Ia mau kita berkontribusi, bukan hanya eksis. Dunia tidak butuh lebih banyak "penonton", tapi pekerja yang peduli dan setia. [LS]