Kata Ibrani "hineni" berarti "here I am", atau "inilah aku". Kata ini mengungkapkan makna mendalam tentang kehadiran, kerelaan, dan kesiapan pada panggilan Tuhan. Tetapi dalam kisah Yunus, kita menemukan pelajaran penting tentang seorang nabi yang mendengar Tuhan dengan jelas, namun memilih untuk berkata "tidak" kepada-Nya.
Panggilan Tuhan kepada Yunus sangat detail, "bangun, pergi ke Niniwe, dan sampaikan Firman Tuhan terhadap penduduknya, karena mereka jahat sekali". Persoalannya kali ini bukanlah kebingungan atau ketidakjelasan, tetapi Yunus tidak menyukai apa yang Tuhan minta. Yunus melarikan diri dari panggilan Tuhan karena Niniwe yang adalah ibu kota Asyur, merupakan musuh Israel. Yunus tahu Allah itu pengasih dan penyayang, Yunus tahu Allah panjang sabar dan berlimpah kasih setia, sehingga Ia dapat mengubah rencana penghukuman-Nya menjadi pengampunan (Yun 4:2). Secara manusiawi, Yunus tidak mau orang-orang Asyur luput dari penghukuman Allah. Jadi dengan kata lain, Yunus lebih mendahulukan emosinya, logikanya, dan kepentingan diri serta golongannya. Meski akhirnya Yunus pergi ke Niniwe, namun kita tahu ia pergi dan menjalankan panggilannya dalam keadaan hati yang pahit dan tidak rela (Yun 4). Dari Yunus kita bisa berkaca, bahwa dalam beberapa hal, kita mungkin tidak secara terang-terangan mengatakan "tidak" terhadap bentuk tanggung jawab yang Tuhan berikan, tetapi sikap kita sering kali menunjukkan keengganan, pengabaian, atau pilih-pilih dalam mengerjakan panggilan tersebut. Contoh, kita tidak suka seseorang, maka kita menghindari pelayanan; kita mengerjakan karena malu menolak; kita melakukan karena takut dihukum; kita mendahulukan kepentingan kelompok; kita ogah-ogahan menjalankan pelayanan. Ini semua bertentangan dengan semangat "hineni". Kita harus sadar bahwa segala hal yang dilakukan dengan terpaksa, tidak menyenangkan Tuhan. Yeremia berucap, "terkutuklah orang yang tidak melaksanakan tugas dari TUHAN dengan sungguh-sungguh." (Yer 48:10 BIS). Sikap enggan juga menghalangi sukacita dalam pelayanan, bahkan keberhasilan rohani sekali pun dapat terasa hambar. Sebaliknya, saat kita melayani dengan hati yang rela dan sepenuh hati, kita akan mengalami kepuasan dan sukacita meski tantangannya berat. Kita akan semakin mengenal hati Tuhan, karena kita lebih memahami tujuan dan karakter Tuhan dalam panggilan tersebut. Karena itu, ingatlah selalu bahwa di dalam menjalani panggilan kita, Tuhan disenangkan saat kita menjawab: "hineni", ini aku Tuhan, aku siap dan aku rela. [LS]